![]() |
Oleh : Br. Pio Hayon, SVD Staf Dosen STPM Santa Ursula Ende |
Seruan Delexi Te — yang berarti “Aku Telah Mengasihi Engkau” — dari Paus Leo XIV menyingkapkan inti terdalam dari iman Kristen: kasih Allah yang mendahului setiap langkah manusia. Dalam konteks menuju masa Advent, seruan ini menjadi ajakan untuk masuk dalam permenungan yang lebih hening dan mendalam, di mana kasih itu tidak hanya diimani, tetapi juga diresapi sebagai sumber harapan akan kedatangan Kristus yang membawa terang ke tengah dunia yang diliputi bayang kegelapan.
Kasih yang Mengawali Segalanya
Paus Leo XIV, melalui Delexi Te, mengingatkan bahwa seluruh gerak rohani Gereja bersumber pada cinta Allah yang lebih dahulu mencintai manusia—bahkan sebelum manusia sanggup memahami nilai cinta itu sendiri. Advent, dengan segala ritual dan simbolnya, adalah perjalanan batin menuju pemahaman ini: kita bukan menanti karena kewajiban, tetapi karena cinta yang telah lebih dahulu membangkitkan kerinduan di dalam hati.
Ada kerinduan yang mendalam di setiap jiwa — kerinduan akan keselamatan, akan kepenuhan hidup, dan akan kehadiran yang sejati. Delexi Te mengajak kita menafsirkan kerinduan ini bukan sebagai kekosongan, melainkan sebagai ruang yang disiapkan Allah untuk diisi oleh kasih-Nya. Dalam Advent, kita diajak untuk mempersiapkan ruang hati itu, agar “Sang Kasih yang lahir dalam kandang sederhana” dapat berdiam di sana.
Bagi banyak orang, penantian sering identik dengan kegelisahan atau ketidakpastian. Namun, Delexi Te menegaskan bahwa penantian sejati adalah wujud iman yang dilandasi cinta. “Aku telah mengasihi engkau,” demikian suara Tuhan yang lembut namun tegas, menjadi jaminan bahwa setiap waktu yang kita jalani — bahkan dalam gelap dan sepi — tidak pernah sia-sia.
Dalam masa Advent, penantian bukan sekadar menghitung hari menuju Natal. Ini adalah latihan rohani untuk menanamkan kepercayaan bahwa kasih Allah sedang bekerja dalam setiap keterlambatan, dalam setiap doa yang belum dijawab, dalam setiap kesunyian doa kita. Advent menjadi ziarah kasih — perjalanan menuju perjumpaan.
Advent, yang seringkali kita pahami sebagai masa penantian yang penuh disiplin, sesungguhnya adalah undangan untuk meluruhkan ego dan membiarkan diri kita dicintai. Ia bukan sekadar hitungan mundur menuju kelahiran Kristus, melainkan sebuah perjalanan batin di mana kita belajar untuk menerima, bukan mengusahakan. "Delexi Te" menjadi cermin yang memantulkan kebenaran fundamental: kasih Allah bukanlah hadiah yang kita raih melalui kesempurnaan, melainkan sumber tak terbatas yang memampukan kita untuk menjadi sempurna, atau setidaknya, untuk berani memulai.
Kelahiran Kristus, Puncak Cinta yang Turun ke Dunia
Paus Leo XIV menulis bahwa kasih ilahi bukan hanya gagasan, tetapi gerak nyata yang turun dan hadir dalam sejarah manusia. Dalam Delexi Te, kasih itu digambarkan bukan sebagai emosi, tetapi tindakan penebusan melalui Inkarnasi Kristus. Maka, ketika kita memasuki masa Advent, kita sebenarnya sedang mempersiapkan diri menyambut cinta yang menjadi manusia — cinta yang menyapa, merangkul, dan menebus.
Bayangkan, di tengah kegelisahan, kelelahan, atau bahkan retakan hati yang terasa tak layak, justru di sanalah kasih ilahi mendekat. Advent membentangkan karpet merah bagi Sang Ilahi untuk hadir dalam kelembutan, bukan menuntut, melainkan menawarkan penyembuhan. Ini adalah masa untuk membuka ruang terdalam jiwa, bukan dengan paksaan, melainkan dengan keheningan yang membiarkan bisikan "Aku telah mengasihi engkau" meresap dan menghangatkan.
Refleksi ini membawa kita ke pesan paling mendalam dari Advent: Kristus tidak lahir dalam kemegahan, tetapi dalam kesederhanaan. Begitu pula, cinta sejati sering tumbuh bukan dalam sorak gembira, melainkan dalam kesetiaan yang diam, dalam penantian yang sabar, dalam pelayanan yang tanpa pamrih.
Maka, "Delexi Te menuju Advent" adalah sebuah perjalanan transformatif. Ia mengajak kita untuk merawat keheningan, membiarkan cahaya kasih Allah menyentuh setiap sudut gelap dalam diri, dan memandang kelahiran Kristus bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan sebagai jawaban agung Allah terhadap kerinduan abadi manusia akan damai, makna, dan cinta yang tak bersyarat. Penantian kita menjadi penuh harapan, bukan karena kekuatan kita, melainkan karena janji abadi yang telah terucap: "Aku telah mengasihi engkau."
Delexi Te sebagai Jalan Menuju Kedalaman Iman
Merenungkan Delexi Te di masa Advent adalah ajakan untuk kembali kepada akar: kasih yang menjadi asal dan tujuan kehidupan kita. Seruan itu bukan sekadar ajaran teologis, melainkan panggilan personal — untuk percaya bahwa setiap hembusan napas kita adalah buah dari kasih yang mendahului segalanya.
Advent, dalam terang Delexi Te, menjadi bukan sekadar masa liturgi, melainkan perjalanan jiwa. Dalam penantian ini, kita diundang untuk membiarkan kasih Allah menata ulang ruang batin kita, agar ketika Kristus lahir di kandang Betlehem, Ia juga lahir dalam setiap hati yang telah siap menyambut-Nya dengan cinta yang sama: cinta yang mengasihi lebih dahulu.
Pada akhirnya, Delexi Te adalah undangan personal: mendengar bisikan kasih ilahi dan bersahutan dengan doa kita. Dalam keheningan, kita menemukan bahwa penantian bukan soal menanti-Nya datang, melainkan membiarkan Dia lahir kembali dalam setiap nalar, setiap sikap, dan setiap keputusan yang menegaskan: “Aku telah mengasihi engkau.” Melalui lensa Delexi Te, Advent berubah dari hitungan hari menjadi tarian kasih yang mempersiapkan dunia dan jiwa kita untuk menyambut Sang Terang — bukan sekadar dalam gereja, tapi dalam setiap langkah kasih yang menembus gelap dunia.


Centang kotak Notify Me agar mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.