![]() |
| Oleh : Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK |
Pax Vobiscum, para saudara terkasih dalam Kristus.
Dalam perjalanan hidup sehari-hari, tanpa kita sadari, banyak keputusan yang kita ambil didasarkan pada rasa takut terhadap manusia. Kita takut ditolak, takut dikritik, takut kehilangan jabatan, takut kehilangan relasi, atau takut tidak diterima oleh lingkungan sekitar. Ketakutan-ketakutan ini sering kali membuat kita mengorbankan kebenaran, menutupi kesalahan, bahkan mengabaikan kehendak Tuhan.
Melalui Injil hari ini (Mat. 10:26-33), Yesus mengingatkan para murid-Nya agar tidak takut kepada manusia. Sabda-Nya sangat tegas: "Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka." (Mat. 10:28).
Yesus tidak sedang mengajak kita hidup dalam ketakutan yang mencekam terhadap Allah. Sebaliknya, Yesus mengajarkan tentang "takut akan Tuhan" yang berarti hormat, kagum, dan tunduk kepada kebesaran serta kehendak-Nya. Takut akan Tuhan adalah kesadaran bahwa hidup kita berada di hadapan-Nya dan bahwa suatu saat kita akan mempertanggungjawabkan seluruh perjalanan hidup kita.
Sering kali kita begitu berhati-hati agar tidak mengecewakan manusia, tetapi kurang peduli ketika mengecewakan Tuhan. Kita takut kehilangan muka di hadapan sesama, tetapi tidak takut kehilangan rahmat Allah karena dosa. Kita mudah menyesuaikan diri dengan tuntutan dunia, namun sulit setia kepada firman Tuhan.
Padahal kasih dan kesabaran Allah bukanlah alasan untuk hidup sembarangan. Justru karena Allah begitu mengasihi kita, maka kita dipanggil untuk bertobat dan hidup seturut kehendak-Nya. Santo Paulus mengingatkan: "Sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka." (1 Kor. 13:12). Pada saat itulah segala sesuatu akan dinyatakan dengan jelas di hadapan Tuhan.
Orang yang sungguh takut akan Tuhan tidak menjadi pribadi yang lemah atau penakut. Sebaliknya, ia menjadi kuat dan berani. Ia berani berkata benar meskipun tidak populer. Ia berani berlaku jujur walaupun harus menanggung risiko. Ia berani mempertahankan iman meskipun menghadapi tantangan. Sebab ia sadar bahwa penilaian manusia bersifat sementara, sedangkan penghakiman Allah bersifat kekal.
Karena itu, marilah kita membangun hidup di atas fondasi takut akan Tuhan. Ketika rasa hormat kepada Allah menjadi pusat hidup kita, maka kita akan memperoleh hikmat, keberanian, dan keteguhan hati dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Pesan untuk Kita
Saudara-saudari terkasih, ketakutan kepada manusia sering membuat kita rapuh dan mudah tergoyahkan. Namun takut akan Tuhan menjadikan kita pribadi yang teguh dalam iman dan setia dalam kebenaran.
Marilah kita memohon rahmat agar semakin berani mengakui Kristus dalam perkataan, tindakan, dan seluruh cara hidup kita. Sebab mereka yang mengakui Yesus di hadapan manusia akan diakui pula oleh-Nya di hadapan Bapa di surga.
"Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian." (Amsal 9:10).
Pertanyaan Refleksi
Dalam situasi apa saya lebih takut kepada manusia daripada kepada Tuhan?
Apakah rasa takut kepada manusia pernah membuat saya mengabaikan kebenaran atau melakukan kompromi dengan dosa?
Bagaimana saya dapat menunjukkan iman dan keberanian sebagai pengikut Kristus di tengah keluarga, pekerjaan, dan masyarakat?
Jika hari ini Tuhan bertanya, "Apakah engkau mengakui Aku di hadapan dunia?", apa jawaban jujur saya?
Doa Penutup
Ya Tuhan Yesus, sering kali kami lebih takut kepada manusia daripada kepada-Mu. Kami mudah goyah oleh penilaian dunia dan lupa bahwa Engkaulah Hakim yang adil dan penuh kasih. Tanamkanlah dalam hati kami rasa takut yang benar, yaitu hormat dan cinta kepada-Mu, agar kami berani hidup dalam kejujuran, kesetiaan, dan kekudusan. Semoga dalam setiap langkah hidup kami, nama-Mu selalu dimuliakan. Sebab Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.
Selamat Hari Minggu. Semoga Sabda Tuhan hari ini meneguhkan iman dan keberanian kita untuk selalu memilih Tuhan di atas segala-galanya.



Centang kotak Notify Me agar mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.