![]() |
| Oleh : Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK |
Pax Vobiscum saudara-saudari terkasih dalam Kristus. Pada hari yang penuh sukacita ini, Gereja merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan. Perayaan ini bukan sekadar mengenang Yesus yang naik ke Surga, tetapi juga menjadi saat di mana kita diingatkan kembali akan tugas perutusan sebagai murid-murid-Nya.
Sebelum terangkat ke Surga, Yesus memberikan amanat terakhir kepada para rasul: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Amanat itu tidak berhenti pada para rasul dahulu, tetapi terus hidup dan ditujukan kepada kita semua hari ini.
Dalam Injil Matius 28:16–20 Yesus berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah…” Kata “pergilah” mengandung makna yang sangat dalam. Pergi bukan hanya berpindah tempat, melainkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman, meninggalkan cara hidup lama, dan membuka hati bagi pembaharuan hidup di dalam Kristus.
Menjadi murid Yesus berarti berani diubah menjadi manusia baru. Para rasul mampu mengubah dunia bukan terutama karena kepandaian berbicara, tetapi karena kesaksian hidup mereka. Mereka menghadirkan kasih di tengah kebencian, pengharapan di tengah penderitaan, dan damai di tengah kekacauan. Hidup mereka menjadi Injil yang nyata dan dapat dibaca oleh banyak orang. Demikian pula kita dipanggil hari ini: bukan hanya pandai berbicara tentang Tuhan, tetapi menghadirkan Tuhan melalui hidup sehari-hari.
Pergi berarti membawa cara hidup yang baru: tetap jujur ketika banyak orang memilih kepalsuan, tetap rendah hati ketika memiliki alasan untuk menyombongkan diri, dan tetap menghadirkan damai di tengah dunia yang penuh pertengkaran. Kesaksian seperti inilah yang menjadi terang bagi sesama. Sebab dunia saat ini tidak hanya membutuhkan kata-kata indah, tetapi teladan hidup yang nyata.
Namun semua itu tidak mungkin terjadi tanpa relasi yang dekat dengan Yesus. Doa, ibadat, dan Ekaristi adalah sumber kekuatan yang membentuk hati kita agar semakin serupa dengan Kristus. Dari relasi yang intim dengan Tuhan, lahirlah keberanian untuk menjadi saksi Injil di tengah keluarga, lingkungan kerja, masyarakat, maupun di mana pun kita berada.
Yesus juga memberikan janji yang meneguhkan hati kita: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” Janji ini menjadi penghiburan bahwa dalam setiap langkah hidup, kita tidak berjalan sendirian. Tuhan selalu hadir, menguatkan, dan menuntun kita.
Pesan Untuk Kita
Lilin yang menyala tidak perlu berteriak bahwa ia memberi terang. Ia cukup menyala, dan cahayanya perlahan mengusir gelap. Demikian pula hidup orang beriman. Ketika kita dekat dengan Kristus, Sang Terang sejati, hidup kita pun akan memancarkan cahaya kasih, damai, dan pengharapan bagi sesama.
Biarlah dunia melihat Kristus melalui tutur kata kita yang lembut, sikap kita yang penuh kasih, serta tindakan kita yang tulus. Sebab pewartaan Injil yang paling kuat adalah hidup yang telah diperbaharui oleh kasih Tuhan.
Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk berani pergi dan menjadi saksi-Nya. Dunia tidak menunggu suara yang paling keras, tetapi menantikan terang nyata dari hidup orang-orang yang sungguh mengenal Kristus.
Pertanyaan Refleksi
Apakah saya berani meninggalkan zona nyaman untuk sungguh hidup sebagai murid Kristus?
Apakah hidup saya sudah menjadi kesaksian Injil bagi keluarga dan sesama?
Apakah doa, ibadat, dan Ekaristi sungguh membentuk hati saya agar semakin serupa dengan Yesus?
Doa Singkat
Tuhan Yesus yang bangkit dan mulia,
ajarilah kami untuk berani pergi meninggalkan kehidupan lama, agar menjadi murid-Mu yang setia dan penuh kasih. Bentuklah hati kami melalui doa, ibadat, dan Ekaristi, supaya hidup kami menjadi terang bagi sesama. Mampukan kami menghadirkan damai, kejujuran, dan kerendahan hati di tengah dunia yang sering kehilangan arah. Sertailah setiap langkah kami, agar melalui hidup kami, banyak orang semakin mengenal dan mencintai Engkau.
Amin.
Selamat berefleksi dan Selamat Hari Raya Kenaikan Tuhan.



Centang kotak Notify Me agar mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.