![]() |
| Oleh : Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK |
Pax Vobiscum, saudara-saudari terkasih dalam Kristus. Pada Minggu Prapaskah V, Gereja mengajak kita merenungkan kasih Allah yang begitu dalam melalui kisah dalam Injil Injil Yohanes 11:1–45, tentang kebangkitan Lazarus. Peristiwa ini bukan sekadar mukjizat, tetapi sebuah pewahyuan tentang hati Allah yang penuh belas kasih dan kuasa yang menghidupkan.
Ketika Yesus Kristus menerima kabar bahwa sahabat-Nya sakit, Ia tidak segera datang. Penantian itu bukanlah bentuk ketidakpedulian, melainkan bagian dari rencana ilahi yang lebih besar, rencana yang menyatakan kemuliaan Allah. Saat Ia tiba di Betania, Ia mendapati Marta dan Maria dari Betania dalam duka mendalam.
Di tengah kesedihan itu, terucap kalimat yang sederhana namun mengguncang: “Maka menangislah Yesus.”
Tangisan Yesus bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kasih yang sejati. Ia sungguh Allah, tetapi juga sungguh manusia yang turut merasakan penderitaan kita. Ia masuk ke dalam luka, duka, dan air mata manusia. Ia menangis karena kasih-Nya kepada sahabat-sahabat-Nya, dan lebih dalam lagi karena dosa telah membawa manusia kepada kematian. Air Mata Sang Sabda, Pewahyuan Kasih yang Menyelamatkan.
Namun, kisah ini tidak berhenti pada air mata. Di hadapan kubur, Yesus berseru dengan penuh kuasa: “Lazarus, marilah keluar!” Dan yang mati pun bangkit. Di sini kita melihat bahwa kasih Kristus bukan hanya ikut merasakan penderitaan, tetapi juga memulihkan dan menghidupkan.
Saudara-saudari, sering kali kita pun memiliki “kubur” dalam hidup: dosa yang berulang, kebiasaan lama, luka batin, atau rasa putus asa. Kita mungkin tampak hidup secara jasmani, tetapi secara rohani terbelenggu.
Hari ini, Yesus tidak hanya menangisi keadaan kita. Ia juga memanggil kita: “Marilah keluar!”
Keluar dari dosa. Keluar dari ketakutan.
Keluar dari hidup lama yang mengikat.
Panggilan ini menuntut keberanian iman. Sebab untuk keluar dari “kubur”, kita harus percaya bahwa suara Kristus lebih kuat daripada segala belenggu.
Dan ketika Lazarus keluar, Yesus berkata: “Bukalah kain-kain itu dan lepaskan dia!” Ini mengingatkan kita bahwa pertobatan juga membutuhkan bantuan sesama komunitas, sahabat iman, Gereja yang menolong kita bertumbuh dalam kebebasan sejati.
Pertanyaan Refleksi
1). Apa “kubur” dalam hidup saya saat ini yang masih mengikat dan menjauhkan saya dari Allah?
2). Apakah saya sungguh mendengarkan dan menanggapi panggilan Yesus untuk keluar dari hidup lama?
3). Siapa yang Tuhan hadirkan dalam hidup saya untuk membantu melepaskan “kain kafan” dosa dan kelemahan saya?
Doa Penutup
Tuhan Yesus, Engkau yang menangis bersama kami, Engkau yang memahami setiap luka dan penderitaan kami. Kami bersyukur atas kasih-Mu yang begitu nyata. Panggillah kami keluar dari kubur dosa, lepaskan kami dari segala belenggu, dan tuntun kami hidup sebagai manusia baru. Kuatkan iman kami agar berani melangkah,dan jadikan kami saksi kasih-Mu yang membawa kehidupan bagi sesama. Amin.
Selamat berefleksi dan selamat merayakan Hari Minggu. Tuhan memberkati.


Centang kotak Notify Me agar mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.