Advertisement
Scroll Keatas Untuk Lanjutkan Membaca
BREAKING NEWS

Renungan Harian Katholik, Rabu 18 Februari 2026 : Puasa Hati di Tengah Hiruk-Pikuk Digital

   
Renungan Harian Katholik, Rabu 18 Februari 2026 : Puasa Hati di Tengah Hiruk-Pikuk Digital

Renungan Harian Katholik, Rabu 18 Februari 2026 : Puasa Hati di Tengah Hiruk-Pikuk Digital

Renungan Harian Katholik, Rabu 18 Februari 2026 : Puasa Hati di Tengah Hiruk-Pikuk Digital
Oleh : Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK


Damai sejahtera bagi kita semua, saudara-saudari terkasih dalam Kristus.
Hari ini Gereja Katolik sejagat memasuki Masa Prapaskah, yang diawali dengan penerimaan abu sebagai tanda pertobatan dan kerendahan hati. Abu di dahi mengingatkan kita akan kerapuhan hidup dan panggilan untuk kembali kepada Tuhan dengan hati yang tulus.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Injil Matius 6:1–6 dan 16–18, di mana Yesus berbicara tentang tiga praktik utama hidup rohani: memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa. Namun yang menarik, Yesus tidak menekankan teknis pelaksanaannya, melainkan arah hati orang yang melakukannya.

Di zaman kita sekarang, muncul sebuah ironi yang patut kita renungkan bersama. Menahan diri dari makanan dan minuman selama beberapa jam terasa berat, tetapi menghabiskan berjam-jam men-scroll media sosial terasa begitu ringan. Berpuasa dari nasi dan air sering kali lebih mudah daripada berpuasa dari gawai dan notifikasi.

Tanpa kita sadari, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Pagi hari, sebelum doa pertama terucap, jari sudah lebih dulu membuka layar ponsel. Siang hari, di sela kesibukan, kita menyempatkan diri melihat linimasa. Malam hari, sebelum tidur, masih ada keinginan untuk “cek sebentar” yang sering kali berakhir menjadi berjam-jam.

Kita bisa lupa makan, lupa waktu, bahkan lupa orang di sekitar kita, tetapi jarang lupa membawa ponsel. Tuhan, keluarga, dan sesama bisa terabaikan, sementara layar kecil di tangan justru mendapat perhatian penuh.

Yesus hari ini mengingatkan kita:
“Janganlah kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka.”

Puasa bukanlah panggung pertunjukan kesalehan. Puasa bukan tentang pencitraan rohani, melainkan tentang relasi yang tersembunyi antara kita dan Bapa. Tentang hati yang jujur, rendah, dan terarah kepada Tuhan.

Refleksi ini sangat relevan dengan dunia digital kita. Bukankah sering kali kita bermedia sosial dengan motivasi yang serupa? Kita mengunggah agar dilihat. Kita membagikan agar direspons. Kita ingin diakui, diperhatikan, dan dianggap ada. Tanpa sadar, hati kita berteriak: “Lihat aku. Akui aku.”

Media sosial pada dirinya tidaklah jahat. Ia bahkan dapat menjadi sarana pewartaan yang efektif dan membangun komunitas iman. Yang menjadi persoalan bukanlah medianya, melainkan motivasi hati kita. Apakah kita berbagi untuk memberi kehidupan, atau sekadar mencari validasi diri?

Di sinilah Prapaskah menjadi momen discernment belajar membedakan mana yang membawa kita semakin dekat kepada Tuhan dan mana yang justru menjauhkan kita dari keheningan yang menyelamatkan. Kita diajak menata ulang waktu: membedakan waktu kronos, waktu yang habis oleh rutinitas dan layar, dan waktu kairos, waktu yang dikuduskan saat kita sungguh hadir bagi Tuhan, keluarga, dan sesama.

Puasa sejati bukan hanya soal apa yang kita tinggalkan, tetapi untuk siapa kita menyediakan kembali waktu dan hati kita. Memberi bukan hanya soal materi, tetapi memberi diri. Memberi perhatian kepada orang yang duduk di hadapan kita, bukan hanya kepada dunia maya yang tak pernah benar-benar hadir. Memberi waktu kepada Tuhan yang setia menanti kita dalam keheningan.

Doa menjadi sumber kekuatan kita. Doa menarik kita keluar dari kebisingan digital menuju keheningan yang menyembuhkan. Doa mengingatkan kita bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh jumlah like, komentar, atau pengikut, melainkan oleh kasih Tuhan yang tak bersyarat.

Pesan untuk Kita

Saudara-saudari terkasih,
Puasa dan pantang bukan sekadar soal tidak makan, tidak minum, atau tidak membuka media sosial. Puasa dan pantang adalah soal hati yang kembali terarah kepada Tuhan.

Tantangan terbesar kita bukan menahan lapar, tetapi menahan diri agar tidak kehilangan jati diri di tengah banjir informasi. Bukan soal kekuatan fisik, tetapi soal kesadaran rohani.

Biarlah Masa Prapaskah ini menjadi jalan pertobatan yang nyata yang membawa kita kembali kepada Tuhan, satu-satunya sumber hidup dan keselamatan. Bukan kepada like, bukan kepada viewers, melainkan kepada kasih-Nya yang kekal.

Pertanyaan Refleksi

Apakah saya lebih rela memberi waktu untuk media sosial daripada untuk Tuhan, keluarga, dan sesama?

Motivasi apa yang mendorong saya saat bermedia sosial: berbagi kebaikan atau mencari perhatian?

Langkah konkret apa yang bisa saya lakukan agar mengalami “waktu kairos” bersama Tuhan di tengah rutinitas harian?

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih,
di tengah hiruk-pikuk dunia digital, kami sering lupa memberi waktu bagi-Mu.
Kami mudah terjebak dalam notifikasi, tetapi cepat lelah dalam doa.
Bimbinglah kami agar puasa dan pantang menjadi jalan penataan hati,
agar waktu dan perhatian kami kembali tertuju kepada-Mu, keluarga, dan sesama. Pulihkan identitas kami melalui doa, agar kami hidup bukan sebagai budak layar, melainkan sebagai anak-anak-Mu yang berjalan dalam kasih-Mu yang kekal. Amin.


Add Comment

Centang kotak Notify Me agar mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.


Panduan dan plan bisnis 2026, hasilkan cuan sampingan!
©2020 — NUSA PAGI