![]() |
| Oleh : Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK |
Injil Matius 5:17–37
“Pergilah Berdamai Dahulu”
Damai sejahtera bagi kita semua, saudara-saudari terkasih dalam Kristus.
Hari ini, pada Minggu Biasa VI, kita diajak merenungkan sabda Tuhan yang sangat tajam dan menyentuh inti kehidupan iman kita. Di atas bukit, Yesus duduk dan mengajar. Ia tidak sekadar menafsirkan hukum Taurat, tetapi membawanya ke kedalaman yang menyentuh HATI manusia. Yesus tidak puas dengan ketaatan lahiriah; Ia menuntut pembaruan batin.
Yesus berkata:
“Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah, lalu teringat bahwa saudaramu mempunyai sesuatu terhadapmu, tinggalkanlah persembahanmu itu, pergilah berdamai dahulu, kemudian kembali untuk mempersembahkan persembahanmu.”
Sabda ini sungguh mengejutkan. Yesus seolah menyuruh kita menunda ibadah. Bukan karena ibadah tidak penting, tetapi karena ibadah sejati tidak mungkin lahir dari hati yang belum berdamai. Tuhan tidak berkenan pada doa yang indah dari bibir, bila hati masih menyimpan dendam. Ia tidak menikmati pujian yang keluar dari mulut, sementara tangan masih menggenggam kebencian.
Yesus menegaskan sebuah kebenaran mendasar:
relasi yang benar dengan Tuhan tidak bisa dipisahkan dari relasi yang benar dengan sesama.
Ada urgensi yang kuat dalam sabda-Nya:
“Segeralah berdamai… selama engkau masih di tengah jalan.”
Jangan menunda. Jangan menunggu esok. Jangan membiarkan hati mengeras dan luka menjadi racun. Waktu tidak selalu berpihak kepada kita. Damai yang ditunda sering berubah menjadi penyesalan.
Namun, kita tahu: damai bukan jalan yang mudah. Ia menuntut kerendahan hati keberanian untuk mengampuni, kesiapan untuk meminta maaf, kejujuran untuk mengakui kesalahan, dan kesediaan untuk berdamai bukan hanya dengan sesama, tetapi juga dengan diri sendiri, dengan alam ciptaan, dan terutama dengan Tuhan.
Tanpa damai, doa hanyalah suara kosong.
Tanpa damai, ibadat hanyalah rutinitas.
Tanpa damai, Ekaristi hanyalah ritual.
Doa yang sejati, ibadat yang sejati, Ekaristi yang sejati selalu berbuah shalom: damai dengan diri sendiri, dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan. Damai itulah tanda Kerajaan Allah yang sudah mulai hadir di dunia ini.
Pesan untuk Kita Hari Ini :
Kerendahan hati adalah jalan menuju damai.
Damai adalah bahasa surga yang ingin diwujudkan di bumi.
Maka: Maafkanlah sebelum hatimu menjadi kuburan bagi luka. Berdamailah sebelum penyesalan menjadi satu-satunya yang tersisa.
Akuilah dosamu, sebab Tuhan menanti bukan dengan hukuman, melainkan dengan damai-Nya. Tinggalkanlah persembahanmu.
Pergilah berdamai.
Kembalilah dengan hati yang lega.
Sebab hanya dari HATI yang damai, naiklah doa, ibadat, dan Ekaristi yang berkenan di hadapan Tuhan. Dan iman yang sejati tidak berhenti di kapela, gereja, altar, atau ruang adorasi, tetapi mengalir ke ruang publik, menyentuh hati sesama, dan memulihkan dunia.
Pertanyaan Refleksi
Siapakah orang yang perlu aku temui atau aku maafkan hari ini, sebelum waktu memisahkan kami?
Apakah ibadahku sungguh lahir dari hati yang damai, atau masih ada luka dan amarah yang belum kulepaskan?
Langkah konkret apa yang bisa kulakukan setiap hari untuk melatih kerendahan hati dan menumbuhkan damai sejati dengan diri sendiri, sesama, alam, dan Tuhan?
Doa Penutup
Tuhan, Sang Sumber Damai,
ajarilah aku untuk rendah hati, berani mengampuni, dan tulus meminta maaf.
Bersihkanlah hatiku dari dendam dan amarah, agar ibadahku lahir dari hati yang murni. Bimbinglah aku untuk berdamai dengan sesama, dengan diriku sendiri, dengan alam ciptaan-Mu, dan terutama dengan Engkau, ya Tuhan. Sebab hanya dari hati yang damai, naiklah pujian yang berkenan di hadapan-Mu. Amin.
Selamat berefleksi dan selamat berhari Minggu.


Centang kotak Notify Me agar mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.