![]() |
| Oleh : Fr. M. Yohanes Berchmans, BH |
Salve, saudara-saudariku terkasih dalam Kristus Tuhan. Setiap dari kita adalah manusia yang rapuh, penuh keterbatasan, dan tak jarang jatuh dalam dosa. Namun, kasih Allah tidak pernah berhenti memberi ruang dan waktu bagi kita untuk kembali. Pertanyaannya sederhana, tetapi mendalam: apakah kita sungguh memanfaatkan kesempatan itu untuk bertobat dan memperbarui hidup kita?
Renungan hari ini diilhami oleh Injil Matius 4:12–23, tentang Yesus yang tampil di Galilea dan memanggil murid-murid-Nya yang pertama. Kehadiran Yesus di dunia bukan sekadar sebuah peristiwa sejarah, melainkan peristiwa keselamatan. Ia datang membawa terang bagi mereka yang hidup dalam kegelapan dosa dan keputusasaan. Namun, terang itu menuntut jawaban. Karena itu, seruan-Nya tegas dan mendesak:
“Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat.”
Pertobatan bukan hanya soal menyesali kesalahan, melainkan keberanian untuk berbalik arah meninggalkan jalan lama yang dikuasai ego, kebiasaan buruk, dan “ilah-ilah kecil” yang menjauhkan kita dari Tuhan. Tanpa keberanian ini, kita bisa saja berdiri tepat di depan Terang, tetapi tetap memilih berjalan dalam kegelapan.
Kisah panggilan para murid memperlihatkan makna pertobatan yang nyata dan radikal. Ketika Yesus memanggil, mereka tidak menunda. Mereka meninggalkan jala, perahu, bahkan kenyamanan hidup lama mereka. Tindakan itu bukan sekadar keputusan praktis, melainkan tanda perubahan hati. Mereka memilih untuk mengikuti Kristus dan membiarkan hidup mereka dibentuk oleh-Nya.
Yesus tidak hanya meminta mereka meninggalkan sesuatu, tetapi juga memberi mereka jati diri baru:
“Aku akan menjadikan kamu penjala manusia.” Dari sekadar mencari nafkah, mereka diangkat menjadi pelayan Kerajaan Allah. Dari rutinitas harian, mereka dipanggil menuju misi ilahi.
Dari pertobatan dan perubahan itu lahirlah buah. Injil menutup perikop ini dengan gambaran Yesus yang mengajar, mewartakan Kabar Baik, dan menyembuhkan orang sakit. Di sanalah tampak buah Kerajaan Allah:
Pikiran dipulihkan melalui pengajaran,
Hati dikuatkan oleh Kabar Baik,
Tubuh disembuhkan oleh kasih Allah.
Murid-murid yang mengikuti Yesus dipanggil untuk menghasilkan buah yang sama: menjadi pembawa terang, harapan, dan kasih di tengah dunia. Maka, urutannya jelas dan tak terpisahkan: Bertobat → Berubah → Berbuah.
Kita tidak mungkin menghasilkan buah rohani yang manis jika tidak lebih dahulu diubah oleh kuasa Kristus. Dan kita tidak akan diubah jika kita tidak berani mengambil langkah awal: bertobat.
Hari ini, panggilan itu kembali menggema dalam hidup kita masing-masing:
“Bertobatlah. Ikutlah Aku.”
Apakah kita masih sibuk memegang “jala dan perahu” kita yakni kenyamanan, kebiasaan, atau kepentingan diri; atau kita berani melepaskannya demi mengikuti Kristus dan membiarkan diri kita dipakaiNya untuk menghasilkan buah yang kekal?
Pertanyaan Refleksi
Bertobat: Apa dalam hidup saya yang masih perlu saya tinggalkan agar sungguh-sungguh berbalik kepada Kristus?
Berubah: Bagaimana saya membiarkan Yesus mengubah rutinitas hidup saya menjadi panggilan yang bermakna?
Berbuah: Buah apa yang sudah tampak dalam hidup saya—dalam bentuk kasih, kebaikan, dan pengampunan—sebagai kesaksian tentang Kerajaan Allah?
Doa Singkat
Tuhan Yesus, Engkau memanggil kami keluar dari kegelapan menuju terang kasih-Mu. Bantulah kami bertobat dengan tulus, diubah oleh rahmat-Mu,
dan berbuah dalam kasih, kebaikan, serta pengampunan bagi sesama kami. Amin.
Selamat berefleksi dan selamat berhari Minggu.***




Centang kotak Notify Me agar mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.