![]() |
| Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK |
Pax Vobiscum, para saudaraku yang terkasih dalam Kristus Tuhan. Setiap orang tentu pernah mengalami “angin sakal” dalam kehidupannya. Ada saat-saat ketika perjalanan hidup terasa berat, langkah menjadi goyah, hati dipenuhi kecemasan, dan berbagai persoalan datang silih berganti. Masalah keluarga, pekerjaan, ekonomi, kesehatan, relasi yang retak, maupun pergumulan batin dapat membuat kita merasa seolah-olah berada di tengah badai yang tidak kunjung reda.
Dalam situasi seperti itu, sering kali kita bertanya: “Di manakah Tuhan?”
Menariknya, Injil hari ini justru menunjukkan bahwa ketika para murid berada di tengah badai, Yesus tidak pernah meninggalkan mereka. Ia datang menghampiri mereka.
Pada hari ini, kita memasuki Minggu Biasa XIX. Renungan kita terinspirasi dari Injil Matius 14:22-33, tentang Yesus berjalan di atas air. Malam itu, Danau Galilea bergolak. Angin bertiup kencang dan perahu para murid dihantam gelombang. Mereka berjuang mendayung, tetapi perahu mereka seakan tidak bergerak menuju tujuan.
Dalam ketakutan dan kepanikan, mereka mungkin bertanya-tanya: mengapa Tuhan membiarkan mereka menghadapi badai seorang diri? Padahal, Yesus melihat mereka.
Dari bukit, tempat Ia berdoa, Yesus mengetahui pergumulan para murid. Ia tidak tinggal diam. Ia datang menghampiri mereka dengan berjalan di atas air.
Namun sesuatu yang ironis terjadi. Ketika melihat Yesus berjalan di atas air, para murid justru berteriak ketakutan, “Itu hantu!”
Mereka salah mengenali Yesus.
Bukankah hal yang sama sering terjadi dalam kehidupan kita?
Ketika mengalami kegagalan, kita mengira Tuhan sedang menghukum kita. Ketika kehilangan pekerjaan, kita merasa Tuhan meninggalkan kita. Ketika sakit datang, kita bertanya mengapa Tuhan tidak menolong. Ketika hubungan retak dan persoalan semakin berat, kita merasa Tuhan begitu jauh.
Padahal, bisa jadi justru di tengah badai itulah Tuhan sedang datang menghampiri kita.
Persoalan terbesar kita terkadang bukan badai yang sedang terjadi, tetapi cara kita memandang badai itu. Kita terlalu fokus pada besarnya ombak sehingga lupa bahwa Tuhan hadir di tengah-tengahnya.
Petrus memberi kita sebuah pelajaran penting.
Ketika Yesus berkata, “Datanglah!”, Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air menuju Yesus. Selama pandangannya tertuju kepada Yesus, ia mampu melangkah di atas sesuatu yang secara manusiawi mustahil.
Tetapi ketika Petrus mulai memperhatikan tiupan angin dan besarnya gelombang, ketakutan menguasai dirinya. Ia mulai tenggelam.
Di sinilah kita menemukan sebuah kebenaran iman yang sederhana namun mendalam: Ketika mata kita tertuju kepada Kristus, kita memperoleh kekuatan untuk menghadapi badai. Tetapi ketika mata kita hanya tertuju pada masalah, ketakutan akan menguasai hati kita.
Badai tidak selalu langsung berhenti ketika kita berdoa. Masalah tidak selalu serta-merta selesai ketika kita percaya. Namun kehadiran Tuhan memberi kita kekuatan untuk tetap bertahan, tetap melangkah, dan tidak menyerah.
Dan ketika Petrus mulai tenggelam, ia berseru: “Tuhan, tolonglah aku!”
Yesus tidak membiarkannya tenggelam.
Ia segera mengulurkan tangan dan memegang Petrus. Betapa indahnya gambaran kasih Tuhan ini. Ketika tangan kita tidak lagi kuat untuk berpegangan kepada-Nya, tangan-Nya tetap kuat untuk memegang kita. Yesus kemudian berkata, “Mengapa engkau bimbang, hai orang yang kurang percaya?”
Pertanyaan ini juga ditujukan kepada kita.
Berapa kali kita membiarkan ketakutan lebih besar daripada iman? Berapa kali kita memandang masalah lebih besar daripada kuasa Tuhan? Berapa kali kita merasa sendirian, padahal Tuhan sedang berdiri begitu dekat dengan kita?
Akhirnya, ketika Yesus masuk ke dalam perahu, angin pun reda.
Para murid kemudian mengakui:
“Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”
Pesan untuk Kita
Para saudaraku yang terkasih,
Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang berada dalam “perahu kehidupan” yang sedang dihantam badai. Ada yang sedang berjuang dengan persoalan keluarga. Ada yang sedang menghadapi tekanan pekerjaan. Ada yang sedang memikirkan masa depan anak-anak.
Ada yang sedang berjuang dalam kesulitan ekonomi. Ada pula yang sedang mengalami pergumulan yang tidak mampu diceritakan kepada siapa pun.
Jangan takut. Tuhan melihatmu.
Mungkin kita merasa Tuhan diam.
Namun diam bukan berarti Ia meninggalkan kita. Mungkin kita merasa Tuhan jauh. Namun bisa jadi Ia sedang berjalan mendekati kita melalui cara yang tidak kita mengerti. Karena itu, jangan salah mengenali kehadiran-Nya.
Apa yang kita anggap sebagai ancaman, mungkin sedang dipakai Tuhan untuk mendewasakan iman. Apa yang kita anggap sebagai jalan buntu, mungkin menjadi jalan bagi Tuhan untuk menunjukkan kuasa-Nya.
Seperti Petrus, kita pun dipanggil untuk terus mengarahkan pandangan kepada Yesus. Jangan terlalu lama memandangi ombak. Pandanglah Kristus. Sebab ombak boleh besar, angin boleh kencang, perahu boleh berguncang, tetapi Tuhan tetap berada di dekat kita.
Dan ketika hati kita mulai takut, dengarkanlah suara-Nya: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Firman itu bukan berarti hidup kita akan bebas dari badai. Tetapi firman itu memberi jaminan bahwa kita tidak pernah menghadapi badai seorang diri. Jika Kristus ada dalam perahu kehidupan kita, badai tidak akan memiliki kata terakhir.
Pertanyaan Refleksi
Ketika menghadapi persoalan hidup, apakah saya masih mampu melihat kehadiran Tuhan, atau saya justru merasa Tuhan meninggalkan saya?
Apakah selama ini saya lebih banyak memandang besarnya “ombak” persoalan daripada memandang Yesus?
Apa yang harus saya lakukan agar iman saya tetap teguh ketika menghadapi angin sakal kehidupan?
Apakah saya sungguh percaya bahwa tangan Tuhan selalu terulur ketika iman saya mulai goyah?
Doa Singkat
Tuhan Yesus,di tengah angin sakal kehidupan, sering kali kami takut dan kehilangan arah. Kami terlalu sibuk memandang besarnya ombak sehingga lupa bahwa Engkau selalu hadir bersama kami. Ampunilah kami yang sering salah mengenali kehadiran-Mu. Ketika kami merasa sendirian, ingatkanlah kami bahwa Engkau tidak pernah meninggalkan kami. Arahkanlah mata dan hati kami untuk selalu tertuju kepada-Mu. Ketika iman kami mulai goyah dan langkah kami mulai tenggelam, ulurkanlah tangan-Mu dan genggamlah kami. Berikanlah kami kekuatan untuk tetap percaya, bahkan ketika badai belum reda. Sebab kami percaya, bersama-Mu kami tidak perlu takut. “Tenanglah! Aku ini, jangan takut.”Amin.
Selamat berefleksi dan selamat menikmati hari Minggu.



Centang kotak Notify Me agar mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.