![]() |
| Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK |
Pax Vobiscum saudaraku yang terkasih dalam Kristus Tuhan. Salah satu syarat untuk menjadi murid Yesus adalah menyangkal diri. Kalau kita renungkan, sesungguhnya menyangkal diri menjadi kunci utama untuk kita bisa memikul salib setiap hari. Sebab, menyangkal diri berarti kita harus melepaskan zona kenyamanan kita, yang menyebabkan kita enggan memikul salib. Kecenderungan kita adalah melepaskan atau menghindari salib. Kita mau hidup yang enak-enak saja.
Pada hari ini kita memasuki hari Minggu biasa XXII. Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 16: 21 - 27, yakni pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikut Dia.
Para saudaraku, Yesus menyingkapkan jalan salib: penderitaan, penolakan, kematian. Petrus menolak keras, tetapi teguran Yesus tegas: “Enyahlah Iblis!” Karena godaan terbesar bukan dosa kasar, melainkan keinginan halus untuk menghindari salib dan mencari jalan mudah.Yesus lalu berkata:
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
Apa artinya menyangkal diri? Bukan membenci diri, melainkan menurunkan ego dari takhta hati. Memberi Kristus tempat utama, sementara kita rela duduk di kaki-Nya. Menyangkal diri berarti berani berkata “tidak” pada suara kedagingan agar bisa berkata “ya” pada kehendak Allah.
Tantangan manusia modern adalah kita hidup di era hedonisme, narsisme, dan sosialita. Ponsel pintar menjadi panggung keinginan: tampil sempurna, diakui, dipuja. Hedonisme berbisik: nikmati sekarang. Narsisme berteriak: jadikan dirimu pusat segalanya.
Sosialita menjerat: jangan sampai ketinggalan tren. Di tengah hiruk-pikuk itu, Yesus berkata: “Sangkal dirimu.” Artinya berani melepaskan genggaman pada kesenangan instan, berani hening tanpa notifikasi, berani menjadi biasa di mata dunia tetapi berharga di mata Allah.
Maka salib adalah jalan. Ingat, tanpa penyangkalan diri, salib terasa menghancurkan. Tetapi ketika ego diturunkan, salib menjadi jalan anugerah: mengasihi saat HATI ingin membenci, memberi saat tangan ingin menggenggam, setia saat dunia memilih kompromi. Salib bukan beban, melainkan tangga menuju Kristus.
Yesus menegaskan paradoks Injil: kehilangan diri lama justru membuat kita menemukan hidup sejati. Bebas dari rantai keinginan, kita hidup sebagai anak-anak Allah yang merdeka.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, bayangkan jika ponsel kita bisa berkata: “Aku bisa memuaskanmu, tetapi aku tak bisa menyelamatkanmu.” Dunia menawarkan citra dan kesenangan sesaat, tetapi Yesus menawarkan hidup kekal. Maka beranilah turun dari singgasana ego.
Lepaskan genggaman pada keinginan dunia, kosongkan tanganmu, agar siap memikul salib dan menerima segala sesuatu dari Allah. Karena hanya dengan menyangkal diri, kita mampu memikul salib. Dan hanya dengan memikul salib, kita sungguh-sungguh mengikut Dia. Amin.
Pertanyaan Refleksi
1. Apakah aku berani menurunkan ego dan memberi Kristus takhta utama dalam hidupku, atau masih sibuk mempertahankan kendali atas segalanya?
2. Bagaimana aku menghadapi godaan hedonisme, narsisme, dan sosialita yang terus berbisik lewat dunia digital dan gaya hidup modern?
3. Salib apa yang harus kupikul hari ini, dan apakah aku siap memikulnya dengan hati yang rela setelah menyangkal diri?
Doa Singkat
Tuhan Yesus, ajarilah aku berani turun dari singgasana ego, melepaskan genggaman pada keinginan dunia, dan memberi Engkau takhta utama dalam hidupku. Kuatkan aku untuk memikul salib setiap hari, agar aku tidak terjerat hedonisme, narsisme, dan kesenangan sesaat, melainkan hidup merdeka sebagai anak Allah. Biarlah dengan menyangkal diri, aku menemukan hidup sejati di dalam Engkau. Amin.
Selamat berefleksi...& Selamat berhari Minggu.




Centang kotak Notify Me agar mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.