![]() |
| Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK |
Pax Vobiscum para saudaraku yang terkasih dalam Kristus Tuhan. Dalam kehidupan ini, setiap manusia selalu berada dalam proses pertumbuhan. Tidak ada seorang pun yang langsung menjadi sempurna. Di dalam hati manusia sering kali terjadi pergumulan antara yang baik dan yang buruk, antara kasih dan egoisme, antara ketaatan kepada Allah dan keinginan mengikuti kehendak diri sendiri.
Melalui Injil Matius 13:24-43 yang ditawarkan kepada kita hari ini, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang gandum dan lalang. Seorang tuan menaburkan benih gandum yang baik di ladangnya, tetapi pada malam hari musuh datang dan menaburkan benih lalang di antara gandum itu. Ketika keduanya tumbuh bersama, para hamba ingin segera mencabut lalang tersebut. Namun sang tuan berkata agar keduanya dibiarkan tumbuh bersama sampai waktu panen tiba, supaya gandum tidak ikut tercabut.
Perumpamaan ini menggambarkan realitas kehidupan manusia. Ladang itu adalah dunia, tetapi juga dapat menjadi gambaran hati kita sendiri. Dalam diri kita ada benih-benih kebaikan yang Tuhan tanamkan: kasih, kejujuran, kesetiaan, kerendahan hati, dan kepedulian kepada sesama. Namun di sisi lain, ada pula benih-benih lalang yang dapat menghambat pertumbuhan kita: kesombongan, iri hati, kemalasan, kebencian, dan keinginan mencari kepentingan diri sendiri.
Pertanyaannya bagi kita adalah: benih apakah yang sedang lebih banyak kita pelihara dalam hidup kita? Apakah gandum yang menghasilkan buah kebaikan, atau lalang yang perlahan merusak kehidupan kita dan orang lain?
Saudaraku terkasih, Yesus tidak mengatakan bahwa Kerajaan Allah hadir secara tiba-tiba dan langsung sempurna. Melalui perumpamaan biji sesawi dan ragi, Yesus menunjukkan bahwa karya Allah bertumbuh secara perlahan tetapi pasti. Biji sesawi yang kecil dapat menjadi pohon besar, dan sedikit ragi mampu mengembangkan seluruh adonan.
Demikian pula kehidupan iman kita. Pertumbuhan rohani membutuhkan proses. Kita tidak dapat menjadi pribadi yang matang dalam iman hanya dengan keinginan sesaat. Dibutuhkan doa yang tekun, kesetiaan mengikuti ajaran Kristus, kerendahan hati untuk terus belajar, serta keberanian untuk memperbaiki diri.
Sering kali manusia modern tergoda dengan segala sesuatu yang serba cepat: ingin sukses tanpa perjuangan, ingin dihargai tanpa pengorbanan, bahkan ingin menjadi pribadi yang saleh tanpa proses pertobatan. Padahal, Tuhan bekerja melalui proses. Seperti gandum yang membutuhkan waktu untuk tumbuh dan menghasilkan bulir yang bernas, demikian pula manusia membutuhkan waktu untuk dibentuk menjadi pribadi yang berkenan di hadapan Allah.
Yesus juga mengajarkan bahwa kita tidak dipanggil untuk menghakimi orang lain dengan cepat. Tuan dalam perumpamaan itu membiarkan gandum dan lalang tumbuh bersama sampai saat panen. Ini menjadi pengingat bahwa hanya Allah yang mampu melihat kedalaman hati manusia. Tugas kita bukanlah mencari kesalahan orang lain, melainkan terus berusaha menjadi gandum yang baik dan membawa kehidupan.
Namun demikian, membiarkan lalang tumbuh bukan berarti kita menyerah terhadap dosa. Kita tetap dipanggil untuk membersihkan hati, melawan kelemahan, dan membuka diri terhadap karya Roh Kudus. Tuhan selalu memberi kesempatan bagi kita untuk berubah dan bertumbuh.
Tuhan tidak mencari manusia yang tampak baik hanya di luar, tetapi manusia yang sungguh menghasilkan buah. Iman yang sejati harus terlihat dalam kehidupan nyata: melalui kasih kepada sesama, pengampunan, kepedulian, pelayanan, dan kesediaan menjadi berkat bagi orang lain.
Karena itu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah hidup saya sudah menjadi gandum yang bernas bagi Tuhan dan sesama? Apakah kehadiran saya membawa damai, sukacita, dan kebaikan bagi orang lain?
Pada akhirnya, akan tiba saatnya Sang Pemilik ladang datang untuk menuai. Mereka yang bertahan dalam kebaikan dan menghasilkan buah akan dikumpulkan ke dalam lumbung Kerajaan Allah. Maka selama masih diberi kesempatan, marilah kita terus bertumbuh, memperbaiki diri, dan membiarkan Tuhan mengubah hati kita menjadi tanah yang subur bagi benih kasih-Nya.
Jadilah gandum yang bernas, bukan lalang yang sia-sia. Jadilah pribadi yang hidupnya menghasilkan buah bagi Allah dan menjadi berkat bagi sesama.
Pertanyaan Refleksi :
Benih apa yang paling dominan dalam hidup saya saat ini: kasih dan kebaikan, atau egoisme dan kelemahan diri?
Apakah saya mau menerima proses pembentukan Tuhan, atau masih mencari jalan yang serba instan?
Apakah kehadiran saya sudah menjadi berkat dan membawa kebaikan bagi keluarga, komunitas, dan sesama?
Doa :
Tuhan Yesus yang penuh kasih,
Engkau telah menaburkan benih kebaikan dalam hati kami. Sering kali kami membiarkan lalang dosa, egoisme, dan kelemahan tumbuh dalam diri kami. Bukalah hati kami agar selalu dibentuk oleh kasih-Mu.
Ajarlah kami setia dalam proses kehidupan, sabar dalam pertumbuhan iman, dan mampu menghasilkan buah kasih yang nyata. Jadikanlah kami gandum yang bernas, yang membawa damai, harapan, dan berkat bagi sesama. Semoga pada saat panen kehidupan tiba, kami layak dikumpulkan dalam Kerajaan-Mu. Amin.
Selamat berhari Minggu. Tuhan memberkati.



Centang kotak Notify Me agar mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.