![]() |
| Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK |
Pax Vobiscum, para saudara terkasih dalam Kristus. Hari ini, dalam Minggu Paskah IV, kita diajak merenungkan sabda Tuhan dari Injil Yohanes 10:1–10 tentang Yesus sebagai Gembala yang baik. Dalam perikop ini, Yesus menyatakan dengan sangat tegas: “Akulah pintu. Barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat.”
Pernyataan ini bukan sekadar kiasan, melainkan sebuah kebenaran iman yang mendasar. Yesus bukan salah satu dari banyak pintu, melainkan satu-satunya Pintu menuju keselamatan. Ia juga adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Dengan demikian, tidak ada jalan lain untuk sampai kepada keselamatan selain melalui Dia.
Keselamatan bukanlah hasil dari usaha manusia semata, bukan pula sekadar hasil ritual keagamaan atau perbuatan baik. Semua itu penting, tetapi tidak cukup tanpa relasi yang hidup dengan Kristus. Jalan keselamatan adalah jalan salib jalan kasih, pengorbanan, dan ketaatan jalan yang telah lebih dahulu dilalui oleh Yesus sendiri.
Dipanggil Menjadi Domba dan Gembala
Sebagai pengikut Kristus, kita adalah domba yang mengenal suara Gembala dan mengikuti-Nya. Namun, panggilan kita tidak berhenti di situ. Kita juga diutus untuk menjadi gembala bagi sesama.
Menjadi gembala bukan soal jabatan atau posisi, tetapi soal kesaksian hidup. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak kata-kata indah, tetapi teladan nyata.
Ketulusan dalam mengampuni, kesetiaan dalam hal kecil, serta kasih yang sederhana namun konsisten itulah “padang rumput hijau” yang meneguhkan hidup orang lain.
Lebih dari itu, kita dipanggil untuk menjadi “pintu” dan “jalan kecil” bagi sesama:
Pintu yang terbuka, yang menghadirkan penerimaan, kasih, dan pengharapan.
Jalan yang lurus, yang menunjukkan kejujuran, kebenaran, dan integritas di tengah dunia yang sering kali penuh kebengkokan.
Sebaliknya, kita harus waspada agar tidak menjadi: pintu yang tertutup oleh egoisme, jalan buntu yang membuat orang lain kehilangan arah, atau bahkan gembala yang menyesatkan melalui sikap dan tindakan kita.
Pintu Itu Masih Terbuka
Saudara-saudaraku, hari ini Pintu itu masih terbuka. Rahmat keselamatan masih tersedia. Namun, Injil juga mengingatkan bahwa akan tiba saatnya pintu itu tertutup (bdk. Lukas 13:25). Karena itu, pertanyaan penting bagi kita bukan lagi apakah Yesus adalah Pintu itu sudah pasti. Yang menjadi refleksi adalah:
Apakah kita sudah sungguh masuk melalui Dia?
Apakah hidup kita mencerminkan bahwa kita berjalan bersama-Nya?
Dan apakah kehadiran kita membantu orang lain menemukan Dia?
Marilah kita tidak menunda. Masuklah melalui Pintu sejati itu, ikutilah Sang Gembala, dan hiduplah sebagai gembala, pintu, dan jalan yang menuntun sesama kepada Kristus.
Pertanyaan Refleksi
Apakah saya sungguh telah menjadikan Yesus sebagai satu-satunya jalan dalam hidup saya?
Apakah hidup saya menjadi teladan yang menuntun orang lain kepada Tuhan?
Apakah saya sudah menjadi “pintu terbuka” dan “jalan lurus” bagi sesama?
Doa
Tuhan Yesus, Engkaulah Pintu keselamatan kami. Kami datang kepada-Mu dengan kerendahan hati, rindu untuk hidup dalam terang dan kebenaran-Mu. Bimbinglah kami agar setia mengikuti suara-Mu sebagai domba-Mu, dan mampukan kami menjadi gembala bagi sesama melalui hidup yang penuh kasih dan ketulusan. Jadikanlah kami pintu yang terbuka bagi mereka yang mencari harapan, dan jalan yang lurus bagi mereka yang rindu menemukan Engkau. Semoga melalui hidup kami, semakin banyak orang mengenal dan mengalami kasih-Mu. Sebab Engkaulah Tuhan dan Juruselamat kami, kini dan sepanjang masa. Amin.
Selamat berefleksi dan selamat merayakan Hari Minggu. Tuhan memberkati.




Centang kotak Notify Me agar mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.