![]() |
| Oleh : Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK |
Pax Vobiscum para saudaraku terkasih dalam Kristus Tuhan.
Sering kali kita berusaha menutup rapat hati kita menyembunyikan luka, kelemahan, bahkan dosa-dosa kita. Kita berpikir bahwa semuanya aman tersembunyi. Namun, hari ini kita diingatkan: sekuat apa pun kita mengunci hati, Tuhan tetap mampu menembusnya. Ia mengenal kita sepenuhnya luar dan dalam.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Yohanes 20:19–31. Dikisahkan para murid berkumpul dalam ketakutan, bersembunyi di balik pintu yang terkunci. Dunia mereka terasa runtuh, harapan seolah hilang. Namun, di tengah situasi itu, Yesus hadir. Ia tidak terhalang oleh pintu, tembok, ataupun ketakutan manusia. Ia datang membawa satu hal: damai.“Damai sejahtera bagi kamu.”
Yesus tidak datang untuk menghakimi kegagalan para murid yang telah meninggalkan-Nya. Ia justru menunjukkan luka-luka-Nya tanda kasih yang telah berkorban. Dari luka itulah lahir penghiburan dan pengharapan.
Di sisi lain, Thomas mewakili kita semua. Ia ragu. Ia ingin bukti. Ia tidak langsung percaya. Namun Yesus tidak menolak keraguannya. Dengan sabar, Yesus datang kembali dan memberi kesempatan bagi Tomas untuk mengalami sendiri kehadiran-Nya.
Keraguan itu akhirnya berubah menjadi iman yang teguh: “Ya Tuhanku dan Allahku!”
Saudaraku, kisah ini bukan sekadar tentang pintu rumah yang terkunci, tetapi tentang pintu hati kita. Ada kalanya hati kita tertutup oleh ketakutan, luka masa lalu, rasa bersalah, atau kebiasaan hidup lama yang sulit ditinggalkan. Namun Yesus tidak memaksa. Ia hadir dengan lembut, menawarkan damai, dan menunggu kita membuka diri.
Iman bukan hanya soal percaya dalam pikiran, tetapi tentang keberanian untuk hidup jujur dan apa adanya di hadapan Tuhan. Kebangkitan Kristus mengundang kita untuk bangkit juga meninggalkan manusia lama dan hidup sebagai ciptaan baru.
Pesan untuk Kita
Saudaraku terkasih, Yesus telah bangkit. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Ia bangkit, tetapi: apakah kita juga mau bangkit bersama-Nya? Jangan biarkan diri kita tetap terkurung dalam “kubur” lama dosa, kepura-puraan, kebiasaan buruk, atau rasa putus asa. Belajarlah dari Tomas: keraguan bukan akhir, tetapi bisa menjadi awal perjumpaan yang mendalam dengan Tuhan. Bukalah hati kita, agar damai Kristus sungguh tinggal dan mengubah hidup kita.
Pertanyaan Refleksi
Pintu hati apa dalam diri saya yang masih tertutup bagi Tuhan?
Apakah saya berani hidup jujur dan apa adanya di hadapan Tuhan dan sesama?
Dalam hal apa saya perlu bangkit dari kebiasaan lama untuk mengalami damai Kristus?
Doa
Tuhan Yesus yang bangkit, Engkau hadir menembus setiap pintu yang tertutup, bahkan pintu hati kami yang paling dalam. Kami datang kepada-Mu apa adanya, dengan segala kelemahan dan keterbatasan kami. Curahkanlah damai-Mu ke dalam hati kami, agar kami berani hidup dalam kejujuran, ketulusan, dan kasih. Bangkitkanlah kami dari cara hidup lama, supaya hidup kami sungguh menjadi tanda kehadiran-Mu di dunia.
Engkaulah Tuhan dan Allah kami, kini dan sepanjang masa. Amin.
Selamat Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Selamat berefleksi dan mengalami damai Kristus.




Centang kotak Notify Me agar mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.