Advertisement
Scroll Keatas Untuk Lanjutkan Membaca
BREAKING NEWS

Pengkhianatan Di Balik Perjamuan

   
Pengkhianatan Di Balik Perjamuan

Pengkhianatan Di Balik Perjamuan

Pengkhianatan Di Balik Perjamuan
Oleh : Br. Pio Hayon, SVD
Staf Dosen STPM St. Ursula Ende

Catatan Awal

Tulisan ini dilatari oleh perayaan “Perjamuan Paskah” Yesus dengan para RasulNya dan saya buka dengan pertanyaan ini : “Bagaimana mungkin ruang yang seharusnya penuh kasih berubah menjadi ruang pengkhianatan?” Di Perjamuan Terakhir, Yesus dan para murid-Nya berkumpul dalam suasana intim, berbagi roti dan anggur sebagai simbol persatuan abadi (Matius 26:26-28). Namun, di balik meja perjamuan itu, terselip rencana gelap Yudas Iskariot yang akan menyerahkan Gurunya kepada musuh-musuh-Nya. Saat itulah, ruang sakral yang dirancang untuk mengikat hati justru menjadi panggung bagi pengkhianatan paling menyakitkan dalam sejarah keselamatan.

Pengkhianatan sering memakai "wajah upacara"—bahasa kebersamaan, persatuan, dan doa yang tampak tulus—tetapi menyembunyikan agenda tersembunyi yang merusak dari dalam. Seperti Yudas yang ikut makan roti sambil merencanakan ciuman pengkhianatan, motif-motif egois kerap bersembunyi di balik ritual kolektif. Fenomena ini bukan monopoli zaman kuno; ia berulang dalam dinamika sosial dan politik, di mana simbol-simbol persatuan dimanfaatkan untuk menyelimuti ambisi pribadi atau kelompok.

Pengkhianatan tidak selalu diawali teriakan atau kekerasan terbuka; sering dimulai dari manuver halus, kepentingan terselubung, dan permainan persepsi yang licin. Opini ini mau menilai pola politik pemimpin masa kini yang kerap meniru "teknik pengkhianatan" Perjamuan Terakhir yakni menggunakan simbol perjamuan seperti kesepakatan palsu, pidato persatuan, atau agenda bersama untuk menutupi tindakan destruktif yang menggerogoti fondasi bangsa dari dalam.

Manuver Halus di Balik Simbol Persatuan

Seperti Yudas yang menerima roti dari tangan Yesus sambil menyimpan 30 keping perak di hatinya, pemimpin politik kini sering menggunakan "perjamuan" kesepakatan publik untuk menyelimuti agenda pribadi. Ambil contoh koalisi besar pasca-pemilu 2024 di Indonesia, di mana partai-partai yang saling bertentangan bersatu di bawah bendera "persatuan nasional". Di balik pidato bersama, terjadi pembagian kekuasaan yang merugikan rakyat kecil, seperti alokasi anggaran infrastruktur yang condong ke proyek oligarki.

Perjamuan Terakhir penuh doa dan nubuat Yesus, namun Yudas tetap buta oleh nafsu. Demikian pula, pemimpin masa kini memanfaatkan pidato beraroma religius—sering dikemas sebagai "doa bersama"—untuk membangun persepsi suci. Kasus demonstrasi besar 2025 di Jakarta, di mana elite politik bergabung dengan massa umat sambil diam-diam mendorong undang-undang yang melemahkan checks and balances, mencerminkan hal ini. Yesus tahu
pengkhianatan Yudas akan datang dari dalam lingkaran terdekat, bukan musuh luar. Begitu juga dinamika DPR RI terkini, di mana fraksi-fraksi oposisi "berdamai" melalui MoU rahasia untuk amnesti korupsi, disamarkan sebagai "reformasi birokrasi".

Pengkhianatan Yudas tidak hanya menyakiti Yesus, tapi juga menghancurkan iman para murid sementara waktu. Di Indonesia, "perjamuan politik" semacam ini melahirkan generasi apatis, seperti terlihat pada penurunan partisipasi pemilu muda di 2024.

Pengkhianatan: Dulu Berwujud Rencana, Kini Berwujud Strategi Politik

Pengkhianatan Yudas Iskariot bukanlah ledakan amarah spontan, melainkan strategi bertahap yang dirancang dengan cerdik, memanfaatkan keintiman Perjamuan Terakhir sebagai topeng sempurna (Matius 26:20-25). Secara konseptual, pola ini berparalel sempurna dengan praktik politik modern di Indonesia, di mana "kesetiaan" dijadikan slogan kampanye yang bombastis, sementara "kebenaran" sering dinegosiasikan seperti barang dagang di pasar malam.

Bayangkan Yudas duduk di meja perjamuan, tersenyum saat Yesus membagikan roti sambil berkata, "Saudara-saudara, ini adalah tubuh-Ku yang diserahkan bagimu" (Lukas 22:19). Di era digital Indonesia sekarang, panggung ini berevolusi menjadi foto kebersamaan di Istana Negara atau deklarasi koalisi nasional pasca-Pilpres 2024, dipromosikan lewat media sosial dengan slogan #PersatuanBangsa#. Yudas bernegosiasi 30 keping perak dengan imam-imam besar: "Berapa yang mau kamu berikan kepadaku, maka aku akan menyerahkan Dia kepadamu?" (Matius 26:15). Dalam politik kontemporer Indonesia, transaksi ini dimodernisasi menjadi janji posisi strategis, konsesi tambang, atau alokasi APBN daerah yang digelapkan melalui lobi tertutup. Puncak strategi Yudas adalah pembelotan di Taman Getsemani: ciuman yang seharusnya simbol kasih menjadi tanda penangkapan (Matius 26:48-49). Politik Indonesia membelot serupa di momen genting, seperti voting UU antikorupsi di DPR pada Maret 2026.

Alkitab mencatat momen ironis di Perjamuan Terakhir: semua murid "memakan di meja yang sama", namun Yudas diam-diam "menghitung cara mengganti" (Yohanes 13:27). Pola kepemimpinan politik modern di Indonesia sering mereplikasi ironi ini. Pemimpin elite kerap memproyeksikan retorika persatuan dan keadilan sebagai tirai utama, tapi kebijakannya justru memperlebar jurang sosial. Contoh paradigmatik adalah pidato "persatuan nasional" Presiden pasca-Pilgub serentak 2025, yang diikuti implementasi otonomi daerah diskriminatif. Esensi Perjamuan adalah janji moral yang dihidupi: "Inilah perjanjian baru dalam darah-Ku" (Lukas 22:20). Berlawanan, kesepakatan politik Indonesia kini direduksi menjadi "dokumen kertas" yang bisa ditawar ulang demi kepentingan sesaat. Di balik façade "kebaikan bersama", pengkhianatan institusional merayap: melemahkan pihak lawan, menguasai proses demokrasi, atau mengubah aturan demi kelangsungan kekuasaan—seperti revisi UU KPK Maret 2026.

Dampak Sosial: Ketika Pengkhianatan Menjadi Kebiasaan

Pengkhianatan Yudas tidak berhenti di Getsemani; ia merembet menjadi trauma kolektif bagi para murid (Yohanes 13:21-30). Demikian pula, ketika pola "perjamuan pengkhianat" jadi kebiasaan di politik Indonesia, dampak sosialnya dahsyat. Setiap "ciuman Yudas" politik mengikis kepercayaan rakyat terhadap institusi. Data survei menunjukkan kepercayaan terhadap DPR turun ke rekor terendah sejak Reformasi 1998. Pengkhianatan berulang melahirkan sinisme massal—"semua sama saja"—meracuni generasi muda dan memperlemah perlawanan sipil.

Meja perjamuan politik menghasilkan kebijakan transaksional, bukan visioner—meninggalkan warisan kemiskinan bagi anak cucu. Perjamuan Terakhir bukan hanya saksi pengkhianatan Yudas, tapi blueprint nilai abadi: kesetiaan hingga mati, transparansi nubuat Yesus, dan keberanian moral menghadapi penderitaan (Lukas 22:42). Yesus transparan: "Sesungguhnya salah seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku" (Matius 26:21). Solusi: wajibkan live streaming sidang DPR dan audit publik MoU koalisi. Yesus tetap teguh meski tahu pengkhianatan. Pemimpin harus berani tolak tekanan transaksional—bentuk "oath moral" legislatif yang punya sanksi berat. Murid setia akhirnya jadi batu karang gereja (Matius 16:18). Solusi: prioritaskan kebijakan berbasis data kebutuhan rakyat melalui referendum digital.

Kembali ke Meja Kasih Sejati

Pengkhianatan di balik Perjamuan mengajarkan pelajaran abadi: ia bisa bersembunyi di balik simbol kebersamaan paling suci—roti, anggur, dan doa—seperti Yudas yang memakan bersama Yesus sambil merencanakan ciuman (Matius 26:23-25). Dari analisis kita, pola ini hidup lagi di politik Indonesia modern: retorika persatuan menyembunyikan transaksi, kesepakatan jadi kontrak sementara, dan kepemimpinan institusional menggerogoti fondasi demokrasi. Karena itu, publik perlu membaca pola pengkhianatan—bukan hanya mendengar kata-kata manis. Untuk itu, ajakan konkret bagi kita semua:
Jadilah masyarakat kritis terhadap retorika persatuan; tanyakan bukti, bukan janji.
Tuntut akuntabilitas melalui petisi digital, demo damai, dan pengawasan media sosial.
Pilih pemimpin yang konsisten antara kata dan tindakan—yang hidupkan nilai Perjamuan: transparansi, keberanian, kesetiaan publik.
Jika Perjamuan Terakhir mengajarkan kasih pengorbanan yang menyatukan umat hingga kekal, mengapa ruang politik kita kerap mengajarkan transaksi yang memecah dan meruntuhkan? Mari ubah meja pengkhianatan menjadi meja kasih—demi Indonesia yang adil, makmur, dan setia pada panggilan ilahi.


Add Comment

Centang kotak Notify Me agar mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.


©2020 — NUSA PAGI