![]() |
| Oleh : Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK |
Pax Vobiscum para saudaraku terkasih dalam Kristus Tuhan. Hari ini kita memasuki Minggu Palma, sebuah perayaan yang mengantar kita pada misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan. Liturgi hari ini menghadirkan gambaran yang sangat kuat: Yesus memasuki Yerusalem bukan sebagai raja dunia yang gagah dan berkuasa, melainkan sebagai Raja yang rendah hati, yang memilih seekor keledai sebagai tunggangannya (lih. Mat 21:1–11).
Pilihan ini bukan tanpa makna. Dalam pandangan dunia, keledai adalah hewan sederhana, bahkan sering dianggap remeh. Namun justru itulah yang dipilih oleh Tuhan untuk menggenapi nubuat dan menghadirkan kemuliaan-Nya. Keledai itu tidak melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia tidak tampil hebat. Ia hanya tersedia dan membiarkan dirinya dipakai. Di sinilah letak pesan rohani yang mendalam bagi kita.
Sering kali kita merasa tidak layak, tidak cukup baik, atau tidak cukup hebat untuk dipakai Tuhan. Kita membandingkan diri dengan orang lain yang tampak lebih mampu, lebih pintar, atau lebih berpengaruh. Namun Injil hari ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak mencari yang sempurna menurut ukuran manusia. Tuhan mencari hati yang sederhana, rendah hati, dan bersedia.
Keledai itu menjadi bagian dari sejarah keselamatan bukan karena kehebatannya, tetapi karena kesediaannya. Ia “dipakai” oleh Tuhan, lalu kembali ke hidupnya yang biasa, tanpa menuntut pujian atau pengakuan. Inilah spiritualitas sejati: melayani tanpa mencari kemuliaan diri.
Saudaraku, sabda yang sama juga ditujukan kepada kita hari ini: “Tuhan memerlukannya.”
Tuhan memerlukan waktu kita untuk berdoa dan beribadat.
Tuhan memerlukan tenaga kita untuk melayani di Gereja dan lingkungan. Tuhan memerlukan tangan kita untuk menolong sesama yang membutuhkan. Tuhan memerlukan hati dan pikiran kita untuk berempati dan mengasihi. Tuhan memerlukan langkah kaki kita untuk mewartakan kebaikan.
Bukan karena Tuhan tidak mampu, tetapi karena Ia menghendaki kita ambil bagian dalam karya keselamatan-Nya.
Maka pertanyaannya bukan lagi: “Apakah saya mampu?” Melainkan: “Apakah saya bersedia?” Biarlah pada Minggu Palma ini kita belajar dari seekor keledai yang sederhana: tidak menonjolkan diri, tidak mencari pujian, tetapi setia membiarkan Tuhan berkarya melalui hidupnya.
Pertanyaan Refleksi
Apakah saya sungguh menyadari bahwa seluruh hidup saya adalah milik Tuhan?
Dalam hal apa saya masih menahan diri untuk dipakai oleh Tuhan?
Apakah saya melayani dengan tulus, atau masih mencari pengakuan dan pujian?
Doa Singkat
Tuhan Yesus, Engkau datang sebagai Raja yang rendah hati, dan memilih yang sederhana untuk melaksanakan karya-Mu. Ajarlah kami untuk tidak mencari kemuliaan diri, tetapi rela dipakai oleh-Mu. Bentuklah hati kami agar selalu terbuka, sederhana, dan siap sedia.
Pakailah hidup kami menjadi alat kasih-Mu bagi sesama, agar melalui kami, nama-Mu semakin dimuliakan.
Amin.
Selamat Hari Minggu Palma.
Tuhan memberkati langkah hidup kita semua.***


Centang kotak Notify Me agar mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.