![]() |
| Oleh : Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK |
Pax Vobiscum, para saudara terkasih dalam Kristus. Apakah kita memiliki mata yang sehat untuk melihat? Hampir semua dari kita tentu dapat menjawab, “Ya.” Namun Injil hari ini mengajak kita melihat lebih dalam: bukan hanya tentang mata jasmani, tetapi tentang mata hati.
Dalam Injil Yohanes 9:1–41 diceritakan seorang yang buta sejak lahir. Seumur hidupnya ia hidup dalam kegelapan. Ia tidak pernah melihat wajah orang tuanya, warna langit, atau indahnya dunia. Namun suatu hari hidupnya berubah ketika Yesus lewat dan berhenti di hadapannya.
Yesus membuat lumpur dari tanah dan ludah, lalu mengoleskannya ke mata orang itu dan menyuruhnya membasuh diri di kolam Siloam. Perintah itu mungkin terasa aneh, tetapi orang itu taat. Ia pergi, membasuh dirinya, dan ketika kembali matanya terbuka. Ia bisa melihat.
Namun mukjizat ini bukan hanya tentang kesembuhan fisik. Mukjizat ini juga tentang perjalanan iman.
Awalnya ia hanya mengenal Yesus sebagai “orang yang disebut Yesus.” Kemudian ia menyebut-Nya seorang nabi. Dan akhirnya, setelah berjumpa kembali dengan Yesus, ia bersujud dan berkata: “Aku percaya, Tuhan!” Dari seorang pengemis buta, ia berubah menjadi seorang yang melihat dan percaya.
Sebaliknya, orang-orang Farisi yang sebenarnya memiliki mata yang sehat justru tidak mampu melihat kebenaran. Mereka menyaksikan mukjizat, tetapi menolak percaya. Mereka merasa paling tahu tentang Tuhan, namun hati mereka tertutup terhadap karya Allah.
Di sinilah Injil hari ini menyingkapkan suatu kebenaran penting: kebutaan yang paling berbahaya bukanlah kebutaan mata, melainkan kebutaan hati.
Hari ini kita merayakan Minggu Prapaskah IV, yang juga disebut Minggu Laetare. Kata Laetare berasal dari bahasa Latin yang berarti “Bersukacitalah.” Gereja mengajak kita bersukacita karena kita telah melewati setengah perjalanan masa Prapaskah dan semakin dekat dengan perayaan Paskah, saat Kristus bangkit membawa terang bagi dunia.
Sukacita ini bukan sekadar perasaan, tetapi juga undangan untuk membiarkan terang Kristus membuka mata hati kita. Kadang-kadang kita seperti orang Farisi: kita rajin berdoa, mengikuti tradisi iman, bahkan tahu banyak tentang ajaran Gereja. Tetapi tanpa disadari, hati kita bisa saja menjadi keras dan tertutup. Kita melihat banyak hal, tetapi gagal melihat karya Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebaliknya, orang buta dalam Injil mengajarkan kita sesuatu yang sangat indah: iman yang sederhana tetapi taat. Ia tidak memahami sepenuhnya apa yang dilakukan Yesus, namun ia percaya dan melangkah dalam ketaatan. Dan justru melalui ketaatan itu, ia mengalami terang. Karena itu, renungan hari ini mengajak kita bertanya pada diri sendiri:
Pertanyaan Refleksi
Apakah selama ini mata jasmani saya sibuk melihat hal-hal duniawi, tetapi mata hati saya kurang peka melihat karya Tuhan dalam hidup?
Apakah saya berani taat kepada Tuhan, bahkan ketika saya belum sepenuhnya mengerti rencana-Nya?
Dalam kehidupan iman, apakah saya lebih mirip orang Farisi yang merasa tahu segalanya, atau seperti si buta yang sederhana tetapi terbuka untuk percaya?
Saudara-saudari terkasih, terang Kristus selalu tersedia bagi kita. Tetapi terang itu hanya dapat masuk bila hati kita terbuka. Maka marilah dalam masa Prapaskah ini kita memohon kepada Tuhan: bukan hanya kesehatan mata jasmani, tetapi terutama mata hati yang mampu melihat dan mengenali kehadiran-Nya dalam setiap peristiwa hidup kita. Karena terang sejati bukan hanya untuk mata yang melihat, melainkan untuk hati yang percaya.
Doa
Tuhan Yesus, Engkau adalah Terang dunia. Bukalah mata hatiku agar aku tidak hanya melihat dengan mata jasmani, tetapi juga mengenali kehadiran-Mu dalam hidupku. Ajarku untuk percaya dan taat kepada-Mu, meskipun aku tidak selalu mengerti jalan-Mu. Jadikanlah hidupku saksi terang-Mu bagi sesama. Amin.
Selamat berefleksi dan Selamat Hari Minggu Laetare.***


Centang kotak Notify Me agar mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.