![]() |
| Masyarakat Desa Wolokota gotong royong kerja jalan untuk mempermudahkan akses transportasi dari dan menuju Wolokota (Foto : istimewa) |
Ende - Nusapagi.com || Tekad warga Desa Wolokota, Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk keluar dari gelapnya malam bukan sekadar wacana. Di tengah medan ekstrem dan akses jalan yang nyaris mustahil dilalui kendaraan berat, warga menunjukkan tekad luar biasa demi menghadirkan listrik negara di kampung mereka.
Jalur menuju Desa Wolokota dikenal sebagai salah satu rute tersulit di wilayah Kecamatan Ndona. Kondisi jalan yang curam, sempit, dan rawan longsor menjadi tantangan serius dalam pelaksanaan proyek elektrifikasi.
Menyadari keterbatasan tersebut, warga bahkan menyatakan kesiapannya untuk memikul tiang listrik secara manual. Tiang-tiang listrik yang akan dibawa memiliki panjang sekitar 12 meter dengan berat rata-rata mencapai 300 kilogram per batang. Material tersebut rencananya akan dipikul melintasi jalur terjal yang tidak dapat dilalui kendaraan pengangkut.
“Kami siap menyumbangkan tenaga, siap memikul tiang-tiang itu di pundak kami. Ini bentuk dukungan nyata agar desa kami tidak lagi gelap di malam hari,” ujar Fidelis tokoh muda Wolokota, Senin (23/02/2026).
Namun di balik semangat gotong royong tersebut, terselip harapan besar agar perjuangan fisik warga tidak dibiarkan berjalan sendiri. Masyarakat menegaskan, pengorbanan tenaga harus diimbangi dengan respons cepat dan kebijakan konkret dari pemerintah.
Warga berharap dinas terkait bersama PLN segera menyelesaikan hambatan birokrasi maupun teknis yang selama ini menyebabkan keterlambatan pengerjaan.
Mereka juga meminta percepatan jadwal pekerjaan sebelum cuaca buruk semakin memperparah kondisi jalan dan menghambat distribusi material.
“Pemerintah perlu menyikapi kondisi jalan ekstrem ini secara serius. Jangan hanya mengandalkan tenaga manual warga, tetapi juga menyediakan dukungan teknis yang memadai,” ungkap Fidelis
Komitmen warga Wolokota muncul seiring rencana pemerintah menghadirkan jaringan listrik di desa yang hingga kini belum pernah menikmati aliran listrik negara.
Fidelis menambahkan, berdasarkan informasi yang kami terima, proyek pembangunan akses listrik ke Desa Wolokota saat ini telah memasuki tahap kedua dan masih menunggu distribusi material utama.
Namun demikian, pihak pemenang kontrak disebut belum berani melakukan penandatanganan kontrak kerja. Kondisi jalan yang ekstrem dinilai berpotensi besar menghambat distribusi logistik serta pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
Di sisi lain, semangat swadaya masyarakat tidak pernah surut. Beberapa waktu lalu, warga Desa Wolokota terpantau melakukan gotong royong pengerjaan rabat beton di sejumlah titik jalan.
Kegiatan tersebut diinisiasi oleh para pemuda desa dengan dana swadaya sebagai bentuk dukungan nyata terhadap percepatan pembangunan dan kelancaran akses menuju wilayah mereka.
Sementara itu, Kepala Desa Wolokota, Yulius Irenius Danga, mengatakan jaringan tegangan rendah terakhir berada di Desa Kekasewa. Perluasan jaringan ke Wolokota direncanakan pada 2026, namun belum ada kepastian waktu pelaksanaan.
Ia menegaskan masyarakat siap bergotong royong membantu distribusi material listrik.
“Warga sudah bermusyawarah dan sepakat membantu, termasuk memikul tiang listrik jika diperlukan. Kami hanya berharap ada kepastian realisasi," tandasnya.
Bagi warga Wolokota, listrik bukan sekadar fasilitas, melainkan simbol keadilan dan kehadiran negara di wilayah terpencil.
"Di balik pundak yang siap memikul beban ratusan kilogram, tersimpan harapan sederhana namun mendalam; malam yang tak lagi gelap dan masa depan yang lebih terang," tutupnya. ***(NP/Efrid Bata)


Centang kotak Notify Me agar mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.