![]() |
| Oleh : Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK |
SALVE, saudara-saudari terkasih dalam Kristus Tuhan. Hari ini kita diajak merenungkan satu pertanyaan mendasar: Apakah kita berani menjadi saksi Kristus di mana pun kita berada, atau justru takut dan malu menunjukkan identitas kita sebagai murid-Nya?
Dalam Injil hari ini, Yohanes Pembaptis memberi kesaksian yang sangat kuat tentang Yesus. Ketika melihat Yesus datang kepadanya, ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Yohanes tidak sekadar menyampaikan pendapat pribadi, tetapi menyatakan kebenaran yang ia terima dari Allah sendiri. Ia melihat Roh Kudus turun ke atas Yesus, dan dari situlah ia tahu bahwa Yesus adalah Putra Allah, Sang Juruselamat.
Kesaksian Yohanes lahir bukan dari kehebatan dirinya, melainkan dari ketaatannya pada pewahyuan Allah. Ia tidak mencari pujian, tidak membesarkan namanya sendiri, melainkan mengarahkan semua orang kepada Kristus.
Panggilan Kita sebagai Saksi Kristus
Sebagai murid Yesus di zaman ini, kita pun dipanggil menjadi “Yohanes Pembaptis” bagi generasi kita. Dunia yang kita hidupi sering kali diwarnai oleh keraguan, relativisme, dan ketakutan akan penolakan. Namun, kesaksian kita tidak bertumpu pada kekuatan diri sendiri, melainkan pada keyakinan akan siapa Kristus bagi kita.
Menjadi saksi Kristus berarti:
Pertama, mengenal Kristus secara pribadi. Yohanes berkata, “Aku telah melihat-Nya.” Kesaksian yang sejati selalu lahir dari perjumpaan nyata dengan Yesus. Perjumpaan itu kita pelihara dalam doa, ibadat, dan terutama dalam Ekaristi, di mana kita bersatu dengan Kristus yang hidup.
Kedua, mengarahkan orang kepada Kristus, bukan kepada diri sendiri.
Yohanes tidak menempatkan dirinya di pusat perhatian. Ia merendahkan hati dan menunjuk kepada Yesus. Demikian juga kita, hidup dan perkataan kita hendaknya menjadi tanda yang mengantar orang lain semakin dekat kepada Tuhan, bukan semakin kagum pada diri kita.
Ketiga, berani berkata benar meski tidak populer. Yohanes Pembaptis berani menyuarakan kebenaran, meskipun itu berisiko bagi dirinya. Kita pun dipanggil untuk hidup dalam kebenaran Injil, meski terkadang tidak diterima atau bahkan ditolak oleh lingkungan sekitar.
Kekuatan Roh Kudus dalam Diri Kita
Kita tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk bersaksi. Yohanes sendiri awalnya tidak mengenal Yesus secara penuh, tetapi ketaatannya pada kehendak Allah membuat hidupnya menjadi saluran rahmat. Roh Kudus yang sama kini tinggal di dalam hati kita, memberi kita keberanian untuk bersaksi di keluarga, di tempat kerja, dan di tengah masyarakat
Maka, marilah kita berani menjadi saksi Kristus di zaman ini. Bukan karena kita hebat, tetapi karena Kristus yang kita wartakan adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Dunia menantikan suara kita suara yang dengan rendah hati dan penuh iman berkata: “Lihatlah, itulah Dia, Yesus Putra Allah, Sang Juruselamat kita.”
Pertanyaan Refleksi
Apakah saya sungguh mengenal Kristus secara pribadi melalui doa, ibadat, dan Ekaristi, sehingga kesaksian saya lahir dari perjumpaan nyata dengan-Nya?
Dalam keseharian, apakah saya lebih sering mengarahkan orang kepada Kristus atau justru menonjolkan diri sendiri?
Apakah saya berani hidup dan berkata benar menurut Injil, meski itu tidak selalu populer atau mudah?
Doa Penutup
Tuhan Yesus,
Engkau Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.
Tanamkan dalam hati kami keberanian untuk bersaksi tentang-Mu,
agar seluruh hidup kami selalu menunjuk kepada-Mu.
Amin.
Selamat berefleksi dan selamat berhari Minggu. Tuhan memberkati. ***


Centang kotak Notify Me agar mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.