Advertisement
Scroll Keatas Untuk Lanjutkan Membaca
BREAKING NEWS

Renungan Katholik Minggu, 11 Januari 2026 : Pembaptisan Yesus, Jalan Ketaatan Menuju Surga

   
Renungan Katholik Minggu, 11 Januari 2026 : Pembaptisan Yesus, Jalan Ketaatan Menuju Surga

Renungan Katholik Minggu, 11 Januari 2026 : Pembaptisan Yesus, Jalan Ketaatan Menuju Surga

Renungan Katholik Minggu, 11 Januari 2026 : Pembaptisan Yesus, Jalan Ketaatan Menuju Surga
Oleh : Fr. M. Yohanes Berchmans , BH


Salve, saudara-saudariku terkasih dalam Kristus Tuhan. Hari ini, Gereja merayakan Minggu Pesta Pembaptisan Tuhan, penutup indah dari rangkaian Masa Natal. Cahaya Natal perlahan meredup, namun bukan berarti terang itu padam. Justru hari ini, terang itu diarahkan ke jalan hidup kita sehari-hari. Mulai besok, kita memasuki Minggu Biasa, namun iman kita dipanggil untuk tetap luar biasa.

Renungan ini berangkat dari Injil Matius 3:13–17, kisah Yesus yang datang kepada Yohanes untuk dibaptis di Sungai Yordan. Sebuah peristiwa yang sederhana, namun sarat makna ilahi.

Yesus datang bukan dengan keagungan surgawi, bukan pula dengan mukjizat yang menggetarkan. Ia berdiri dalam antrean bersama orang-orang berdosa. Ia yang tanpa noda dosa justru memilih jalan ketaatan dan kerendahan hati. Di sanalah keajaiban terjadi: surga terbuka.

Injil hari ini mengajarkan kepada kita bahwa surga tidak terbuka karena tindakan spektakuler, melainkan karena ketaatan kecil yang dijalani dengan cinta besar. Yesus dibaptis bukan karena Ia perlu disucikan, tetapi karena Ia ingin menyatukan diri sepenuhnya dengan kemanusiaan kita.

Makna Pembaptisan Yesus bagi kita sangat mendalam: Pertama, pengangkatan martabat kemanusiaan kita. Ia masuk ke dalam hidup kita apa adanya. Kedua, pernyataan keilahian-Nya Tritunggal Mahakudus dinyatakan secara utuh. Ketiga, dimulainya secara resmi karya keselamatan—sebuah misi cinta yang akan berpuncak di salib dan kebangkitan.

Perhatikan urutannya:
ketaatan terlebih dahulu, lalu Roh Kudus turun, dan identitas ilahi dinyatakan.
Bukan sebaliknya.

Roh Kudus tidak turun sebagai api yang menghanguskan, melainkan sebagai merpati yang lembut, pembawa damai. Dan suara Bapa pun terdengar penuh kasih: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi.”

Pesan ini sangat dekat dengan hidup kita. Jika kita rindu mengalami “surga terbuka”, maka kita tidak perlu menunggu peristiwa besar. Surga bisa terbuka di rumah, di sekolah, di kantor, di kebun, di ladang, di pasar, bahkan di pantai, ketika kita memilih: jujur saat ada kesempatan berbuat curang, sabar saat emosi ingin meledak, setia saat tak ada yang melihat.

Dalam kesetiaan pada hal-hal kecil dan sederhana itulah, Roh Kudus turun menguatkan. Dan di tengah rutinitas hidup yang biasa, kita akan mendengar bisikan lembut Sang Bapa: “Engkau adalah anak-Ku yang Kukasihi.”
Surga ternyata tidak jauh. Ia menunggu ketaatan kita untuk menyentuh bumi.

Pertanyaan Refleksi


Dalam hal kecil apa hari ini saya dipanggil untuk taat dan mengasihi dengan tulus?

Bagaimana saya dapat meneladani kerendahan hati Yesus yang rela berbaris bersama orang berdosa?

Apakah saya sungguh percaya bahwa surga dapat terbuka dalam rutinitas hidup sehari-hari?

Doa Singkat
Tuhan, ajarlah kami taat dalam hal-hal kecil dengan hati yang tulus. Dalam kesederhanaan hidup, biarlah Roh Kudus-Mu turun, dan kami mendengar suara-Mu yang meneguhkan: “Engkau adalah anak-Ku yang Kukasihi.”
Amin.

Selamat berefleksi dan selamat merayakan Minggu Pesta Pembaptisan Tuhan. ***


Add Comment

Centang kotak Notify Me agar mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.


Promo awal tahun! Rahasia hasilkan CUAN hanya pake A.I
©2020 — NUSA PAGI