![]() |
Oleh : T.H. Hari Sucahyo. Umat Gereja Santo Athanasius Agung , Paroki Karangpanas Semarang |
Di tengah dinamika zaman yang bergerak cepat dan sering kali membingungkan arah
hidup kaum muda, suara Gereja kembali menggema dengan nada yang lembut namun tegas
melalui pesan Paus Leo kepada para peserta Konferensi Pemuda SEEK di Amerika Serikat.
Dalam pesannya, Paus Leo mengajak kaum muda untuk meluangkan waktu bersama Yesus, baik
bagi mereka yang baru pertama kali berjumpa dengan-Nya maupun bagi mereka yang telah lama
berjalan dalam iman, serta untuk senantiasa membuka hati terhadap apa yang Tuhan persiapkan
dalam hidup mereka.
Pesan ini bukan sekadar ajakan rohani, melainkan sebuah undangan mendalam untuk
memasuki relasi personal dengan Kristus yang hidup, yang menyapa, menyembuhkan, dan
mengutus. Konferensi SEEK tahunan, yang diselenggarakan oleh Fellowship of Catholic
University Students (FOCUS), telah lama menjadi ruang perjumpaan yang khas bagi kaum muda
Katolik. Selama lima hari penuh, ribuan peserta berkumpul untuk berdoa, mengikuti Adorasi
Ekaristi, menerima sakramen-sakramen Gereja, serta mendengarkan para pembicara yang
memberi kesaksian iman dan refleksi yang membangkitkan harapan.
Tahun ini, SEEK memasuki penyelenggaraan ke-26 dan berlangsung pada 1–5 Januari
2026 di tiga kota besar Amerika Serikat: Columbus, Ohio; Denver, Colorado; dan Fort Worth,
Texas. Lebih dari 25.000 anak muda hadir, membawa serta kerinduan, pertanyaan, dan harapan
mereka masing-masing. Dalam konteks inilah pesan Paus Leo menemukan bobotnya. Ia
menegaskan bahwa meluangkan waktu bersama Yesus bukanlah aktivitas tambahan di sela-sela
kesibukan, melainkan inti dari kehidupan Kristiani.
Bagi sebagian peserta, SEEK mungkin menjadi titik awal perjumpaan pertama yang
sungguh personal dengan Yesus, yang tidak lagi dipahami hanya sebagai figur historis atau
ajaran moral, tetapi sebagai Pribadi yang hadir dan mengasihi. Bagi yang lain, konferensi ini
menjadi kesempatan untuk memperdalam relasi yang telah terjalin, memurnikan motivasi, dan
meneguhkan kembali komitmen iman di tengah tantangan dunia modern.
Paus Leo menyoroti pentingnya keterbukaan hati. “Terbuka terhadap apa yang Tuhan
persiapkan” berarti berani menyerahkan kendali, berani mendengarkan suara Tuhan yang sering kali hadir dalam keheningan, dan berani melangkah melampaui zona nyaman. Bagi kaum muda,
keterbukaan ini menyentuh berbagai dimensi kehidupan: panggilan hidup, pilihan studi dan
karier, relasi, pelayanan, hingga cara memaknai penderitaan dan kegagalan. Paus mengingatkan
bahwa Tuhan tidak pernah memanggil tanpa sekaligus menyertai; rencana-Nya selalu mengarah
pada kebaikan yang lebih besar, meskipun jalannya tidak selalu mudah dipahami.
Atmosfer SEEK dirancang untuk membantu proses penemuan ini. Doa dan Adorasi
menjadi jantung konferensi, menyediakan ruang hening di mana peserta dapat menatap Yesus
dan membiarkan diri mereka ditatap oleh-Nya. Dalam keheningan itu, banyak yang mengalami
penghiburan, pencerahan, bahkan pertobatan. Sakramen Rekonsiliasi menjadi momen
pemulihan, ketika beban masa lalu dilepaskan dan harapan baru dilahirkan. Ekaristi dirayakan
sebagai sumber dan puncak kehidupan iman, menyatukan ribuan hati dalam satu Tubuh Kristus.
Kesaksian para pembicara turut memperkaya pengalaman ini. Mereka datang dari latar
belakang yang beragam, baik itu imam, religius, awam, profesional, misionaris, yang disatukan
oleh pengalaman perjumpaan dengan Kristus yang mengubah hidup. Melalui kisah nyata tentang
panggilan, pergulatan, dan kesetiaan, para pembicara membantu peserta melihat bahwa iman
bukanlah teori, melainkan jalan hidup yang konkret. Pesan Paus Leo menemukan gema dalam
kesaksian-kesaksian ini: bahwa Tuhan bekerja secara personal, memanggil setiap orang dengan
cara yang unik, dan mengundang respons yang bebas dan penuh kasih.
Lebih dari sekadar acara besar, SEEK menjadi simbol Gereja yang hidup dan muda.
Kehadiran puluhan ribu peserta menunjukkan bahwa di tengah sekularisasi dan skeptisisme,
kerinduan akan makna, kebenaran, dan relasi dengan Tuhan tetap kuat. Paus Leo, dengan
kebijaksanaan pastoralnya, menegaskan bahwa kaum muda bukan hanya masa depan Gereja,
melainkan bagian dari masa kini yang aktif dan kreatif. Dengan meluangkan waktu bersama
Yesus, kaum muda diperlengkapi untuk menjadi saksi harapan di kampus, tempat kerja,
keluarga, dan masyarakat luas.
Pesan Paus juga menantang budaya instan yang kerap menuntut hasil cepat dan kepastian
segera. Relasi dengan Yesus menuntut waktu, kesabaran, dan kesetiaan. Ia tumbuh melalui doa
yang setia, partisipasi dalam sakramen, pembacaan Kitab Suci, dan keterlibatan dalam
komunitas. Dalam proses ini, kaum muda belajar membedakan suara Tuhan dari hiruk-pikuk
dunia, serta menemukan kebebasan sejati dalam ketaatan yang penuh kasih.
Konferensi SEEK, dengan skala dan dampaknya, menjadi laboratorium iman di mana
panggilan-panggilan lahir dan diperteguh. Tidak sedikit peserta yang, setelah meluangkan waktu
bersama Yesus, menemukan keberanian untuk melangkah menuju panggilan imamat atau hidup
bakti, atau untuk menghidupi panggilan awam secara radikal dalam dunia profesional dan sosial.
Paus Leo mengajak kaum muda untuk tidak takut pada panggilan Tuhan, sebab di dalamnya
terdapat sukacita yang mendalam dan tujuan yang melampaui diri sendiri.
Di tengah dunia yang ditandai oleh polarisasi, kecemasan, dan ketidakpastian global,
pesan Paus Leo membawa nada pengharapan. Ia mengingatkan bahwa Yesus tetap hadir dan
bekerja, memanggil generasi muda untuk menjadi pembawa terang dan damai. Dengan hati yang
terbuka terhadap rencana Tuhan, kaum muda dipanggil untuk membangun jembatan, merawat
solidaritas, dan menghadirkan kasih Kristus dalam tindakan nyata.
Konferensi SEEK ke-26 bukan hanya peristiwa lima hari yang berakhir di tiga kota
Amerika Serikat. Ia adalah awal dari perjalanan panjang yang dibawa pulang oleh setiap peserta
ke konteks hidup mereka masing-masing. Pesan Paus Leo menjadi kompas rohani: meluangkan
waktu bersama Yesus, membuka hati terhadap rencana Tuhan, dan melangkah dengan iman.
Dalam kesetiaan pada ajakan ini, generasi muda menemukan bahwa hidup bersama Kristus
bukanlah beban, melainkan anugerah; sebuah petualangan iman yang terus berkembang, penuh
makna, dan berbuah bagi dunia. ***


Centang kotak Notify Me agar mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.