Advertisement
Scroll Keatas Untuk Lanjutkan Membaca
BREAKING NEWS

Upacara Adat Tanah Ulayat Wolomage: Merawat Kesakralan Lewat Seremoni Kowu Kedha

   
Upacara Adat Tanah Ulayat Wolomage: Merawat Kesakralan Lewat Seremoni Kowu Kedha

Upacara Adat Tanah Ulayat Wolomage: Merawat Kesakralan Lewat Seremoni Kowu Kedha

Upacara Adat Tanah Ulayat Wolomage: Merawat Kesakralan Lewat Seremoni Kowu Kedha
Kedha Wolomage Detusoko Ende (NP/EB)

Ende - Nusapagi.com ||  Di tengah arus modernisasi yang kian deras, masyarakat adat Wolomage Desa Wolomage Kecamatan Detusoko Kabupaten Ende tetap teguh menjaga tradisi leluhur. Jumat (29/08/2025), mereka kembali menggelar upacara adat di Tanah Ulayat Wolomage dengan tema “Kowu Kedha” atau “Sebhi Mba’o”, sebuah seremoni sakral yang memadukan doa, simbol, dan tindakan nyata dalam merawat warisan budaya.


Ritual agung ini dipimpin langsung oleh Mosalaki Puu Nikolaus Nobe, didampingi enam Mosalaki lainnya yakni Antonius Raja, Rafael Sele, Eduardus Woda, Klemens Naga, Fransiskus X. Sapdana, dan Adrianus Dala serta delapan orang Kopokasa. Kehadiran mereka menegaskan peran sentral para pemangku adat dalam menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur.


Rangkaian upacara dimulai sejak Senin (25/08) melalui ritual Dhawe Kanga, sebuah prosesi penyucian diri yang hanya diperuntukkan bagi Mosalaki, Kopokasa, dan Fa'i Walu Ana Kalo. Di sinilah ruang adat disucikan, menjadi landasan sakral untuk tahapan berikutnya.


Memasuki Kamis (28/08), prosesi berlanjut dengan Gae Kote Kae, yakni pemakaian busana adat pada Nutu Walo Mu dan Neko Maja Sao Ata Dhu'a Ria. Suasana kian khidmat saat ditampilkan tarian Woge tarian keberanian dan penghormatan kepada leluhur yang menggambarkan keteguhan, keuletan, sekaligus semangat persaudaraan.


Puncak kekhidmatan tiba pada Jumat (29/08) dengan ritual Pete Soku Eba, yaitu memperbaiki kayu-kayu lapuk sebagai simbol pembaruan kehidupan.


Sehari kemudian, Sabtu (30/08), masyarakat bergotong-royong memasang atap kedha dari alang-alang. Ritual ini dipadukan dengan tarian Gawi, tarian kebersamaan yang menjadi perekat solidaritas. Seluruh rangkaian kemudian ditutup dengan prosesi Ne'ku Wenggu, tanda syukur atas berkat leluhur.


Kesakralan upacara semakin nyata ketika para Mosalaki berkomitmen tinggal di Kedha selama empat malam hingga prosesi penutup Kolu Lengi. Tradisi ini bukan sekadar simbol, melainkan bentuk ikatan batin mendalam antara manusia, tanah ulayat, dan arwah para leluhur.


Bagi masyarakat Wolomage, upacara adat ini lebih dari sekadar seremoni budaya. Ia adalah peneguhan identitas, pengikat persaudaraan, dan wujud kearifan lokal yang terus dijaga agar tidak punah digerus zaman. Seremoni Kowu Kedha mengajarkan bahwa tanah ulayat bukan hanya warisan fisik, melainkan ruang hidup yang mesti dirawat dengan penuh hormat dan kesadaran spiritual.***(NP/Efrid Bata)

Add Comment

Centang kotak Notify Me agar mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.


Dapatkan kopi Flores asli untuk kamu yang beruntung hari ini..!!
©2020 — NUSA PAGI